Kamis, 03 Juni 2010

KERIKIL DAKWAH YANG MENYESAKKAN

KERIKIL DAKWAH YANG MENYESAKKAN
Oleh : Syamsuddin Kadir

“Sesungguhnya binatang (makhluk) bergerak (bernyawa) yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu (yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang ang tidak mengerti”
(Qs. Al-Anfal: 22)


Betapa hatimu semakin keras sekeras bahkan lebih keras dari batu. Kesombongan dan bangga-bangga diri terlalu sering mendominasi sikap dan penyikapanmu dalam melangkah di setiap harinya. Penyakit sekaligus virus riya’ kadang melingkari amal dan aktivitasmu. Kehadiranmu di ruang pengkaderan (tarbawi) dan ruang amal serta rapat (syuro’) hanya dianggap bahkan dijadikan sebagai batu loncatan untuk mendapatkan penghargaan manusia: semacam dapat amanah anu dan anu.

Semuanya dilampaui tanpa tahu diri. Lalu, inikah yang membuatmu berbangga sambil riya’ dan merendahkan saudara dan para kader yang menanti teladan? Apakah ini juga yang menjadi pakianmu di saat dirimu menjadi pemimpin (qiyadah) yang pura-pura lelah dan berkeringat dalam merumuskan dan mengarahkan semua kebijakan strategis dakwah? Apakah tidak cukup bagimu kritikan indah dari pernyataan seorang kader berikut ini? “Saudaraku, saya malu aktif lagi, karena saya melihat ada alumni pengurus yang satu hari penuh tidak tilawah, bulsit dengan amal yaumi aktivis dakwah. Saya tidak mendapatkan keteladanan dalam banyak hal seperti kata-kata, sikap dan sapaan.”

Ini bukanlah kisah ongkokan yang tak bermakna dan libur untuk diperhatikan. Ini merupakan kenyataan yang sudah mendiami sebagian besar benak kader yang sempat diajak ngobrol oleh alumni pengurus organisasinya. Dan itu semua adalah cambuk bagimu yang terlampau lama tenggelam dalam lautan nista. Agar engkau lebih tahu bahwa dirimu di hati para kader dan aktivis dakwah Islam bukan siapa-siapa, di saat engkau merasa bahwa engkau punya nama dan tempat penghormatan. Pejabat anuhlah, anggota anuhlah dan seterusnya.

Untukmu yang suka dan hoby sombong di jalan dakwah Islam ini. Yang engkau peroleh dari sini, dari jalan dakwah Islam ini hanya itu, hanya kesombongan dan riya’, setelahnya engkau akan mendapatkan penghargaan manusia kemudian engkau mati dalam keadaan hatimu busuk seperti bangkai. Fisikmu hidup tapi hatimu tersiksa dunia dan penghargaan para penghuninya. Jika itu yang engkau cari, maka engkau tersesat dan lebih sesat dari binatang yang sering engkau hina, seperti anjing, babi, kera dan sejenisnya. Lalu, apakah itu yang membuatmu tak merasa kecil di depan banyak orang yang boleh jadi lebih ikhlas untuk beramal dalam ruang dakwah Islam ini?

Adalah kebulatan tekadmu dulu ketika awal-awal masuk dalam ruang dakwah Islam ini telah kau gadai dengan kepalsuan dirimu dalam beramal. Keaslian dakwah Islam engkau jual untuk dunia atas alasan ijtihad dan pilihan darurat yang tak jelas ujungnya. Bermaksiat dalam kemasan aktivitas tidak membuatmu merasa bersalah dan terhina. Padahal hatimu sedang dikuasai oleh setan yang memang sudah berjanji mengganggumu untuk tidak ikhlas dalam beramal. Karena bagimu kini, keikhlasan adalah pajangan penghormatan dan penghargaan manusia. Lalu, adakah engaku sadar dengan itu semua? Kalau engkau tidak merasa, cukuplah lisan dan sikap banyak kader atas sikap dan sifatmu menjadi bukti nyata bahwa dirimu adalah sampah dakwah Islam yang pura-pura memakai baju dakwah Islam. Ibadahmu jauh dari kuantitas dan kualitas ibadah saudara-saudaramu sesama aktivis, dan para kader yang engaku remehkan atau rendahkan melalui sikap, tingkah dan akhlakmu yang jelek. Amal sholehmu juga sangat sedikit, sehingga maksiat dan kesombonganmu lebih banyak dari keikhlasanmu dalam beramal. Lalu, apakah engkau sadar jika itu adalah baju yang sedang engkau pakai sekarang? Jika tidak, maka engkau memang layak dikuburkan sebelum Malaikat maut menjemput ruh yang masih bersamamu. Atau engkau tak merasakan apa-apa? Jika tidak juga, maka engkau adalah manusia tengil yang mesti bertobat atau engkau tetap dalam kenyataan: matinya hati dalam hidupnya fisikmu. Gelapnya nurani dalam terangnya wajahmu.

Betapa sedihnya dirimu yang mengaung dan berbusa di mana-mana: di ruang rapat, kampus, di rumah, di masjid, di tempat pengajian bahkan di berbagai tempat atau mungkin struktur dengan lisan tanpa makna. Kata-katamu kering tak berbekas. Lisanmu cerdas, tapi ruhmu kering. Engkau merasa memiliki sesuatu, namun yang mendengarmu bilang kalau engkau tak punya apa-apa. Engkau habiskan waktumu tuk bermain-main atau mungkin membaca, namun berapa ayat al-Qur’an yang kau renungi setiap harinya? Jadwal membicarakan dunia telah mendominasi jadwal hidup dan gerakmu. Namun ayat Allah Swt. nyaris bahkan sering engkau lupakan. Kalaupun engkau membaca (tilawah) dan merenungi beberapa ayat, itu bukan karena rindu dengan ayat-ayat itu. Tapi karena engkau takut jika di ruang pengkaderan (tarbawi) atau struktur dakwah engkau dianggap kader biasa atau aktivis ‘cemeng’ gara-gara engkau tak memenuhi tugas bulanan atau pekanan. Engkau menjadikan ayat-ayat Allah Swt. itu sebagai mantra-mantra dengan tidak memahami dan merenungi isi dan pesannya. Engkau tuli bahkan hatimu buta dengan ketegasan ayat-ayat itu dalam mengingatkanmu agar tidak lalai dalam hidup. Agar engkau berilmu sebelum beramal. Agar engkau mendalami ilmu. Apakah dirimu tidak malu memamerkan diri sebagai da’i padahal dirimu tak punya niat untuk memahami ayat-ayat Allah dan sunah Rasul-Nya? Lalu, ke manakah manusia itu engkau bawa? Ke mana manusia itu engkau ajak? Kalau dakwah Islam, tapi mengapa dirimu tidak memiliki pengetahuan mengenai Tauhid (Aqidah Islam), Ushul Fiqih, Fiqih, Tafsir atau juga Sirah Nabawiyah?

Sekali lagi, agar dirimu memiliki pengetahuan. Apalah lagi engkau memakai baju baru bahkan mungkin sudah menjadi baju lamamu: Aktivis Dakwah Islam, atau yang sering disebut dengan da’i. Berbangga-bangga diri hanya karena memiliki metodologi tapi tidak memahaminya justru--sadar atau tidak disadari--engkau telah merusakkan dan mengotori baju besar itu. Yang wanginya hanya diperoleh dengan ilmu, amal dan keikhlasan.

Kalau dirimu seperti itu adanya, lalu mengapa engkau bangga dengan amanah atau bahkan jabatan dari kader, umat atau rakyat? Apa yang membuatmu berbangga-bangga diri, dengan penampilan serba gaya pada saat hati bahkan jiwamu dalam keadaan kotor dan gelap gulita? Atau apakah dirimu lupa mengevaluasi diri sebelum dan sesudah tidur malammu? Atau sudah lupa kalau masih ada Yang Maha Besar di atas sana? Atau jangan-jangan dirimu kini terjangkit virus Fir’aun yang sangat angkuh dan sombong, bahkan mengaku diri sebagai tuhan yang maha agung?

Wahai manusia serakah, wahai jiwa nestapa, kembalilah ke jalan Allah, walau dengan mendengar dan melihat kembali hati nuranimu bahkan gerak fisikmu. Kelak dirimu akan menjadi bangkai busuk, walau kini dirimu berbangga-bangga diri seakan-akan terus hidup di sini. Lalu, dengan itu engkau menjadi sombong dan serba gaya. Dari cara berbicara, cara menyapa, cara memandang, cara menilai sampai cara bersikap bahkan cara menyikapi berbagai keadaan. Kalau dengan nasehat dan teguran dirimu tak sadar diri, maka saksikanlah, “supaya engkau tahu, hal itu cukup bagi siapa-siapa bahkan nuranimu sendiri bahwa engkau bukan siapa-siapa, pada saat engkau merasa siapa-siapa, di mana-mana dan bahkan di atas siapa-siapa”. Wallahu a’lam. []

» Read more → KERIKIL DAKWAH YANG MENYESAKKAN

BAROKAH POLITIC’S INSTITUTE

BAROKAH POLITIC’S INSTITUTE
(Refleksi atas dialog singkat ‘HTI’ dan ‘KAMMI’)
Oleh: Syamsudin Kadir


Akhir-akhir ini medan amal bahkan dunia Islam dipenuhi dan dihidupkan oleh banyak Harokah dan Ormas Islam. Pada awalnya saya termasuk orang yang antipati dengan fenomena ini. Mengapa? Mungkin di antara pembaca--termasuk kader KAMMI yang berpikiran seperti saya--memiliki alasan yang sama. Ketika melihat fenomena muncul dan beragamnya Harokah dan Ormas Islam saya selalu mengaitkan dengan hadits yang menjelaskan bahwa Yahudi itu terbagi ke 71 golongan salah satunya masuk surga, nasrani terbagi ke 72 golongan salah satunya masuk surga dan umat Islam terbagi ke 73 golongan salah satunya masuk surga.


Saya selalu berpikiran dan bertanya seperti ini, “Kalau umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yang masuk surga hanya salah satunya, maka siapakah atau golongan manakah yang masuk surga itu? Apakah semua manusia--umat Islam--yang terlibat dalam Harokah dan Ormas yang ada semuanya masuk surga? Apakah Harokah dan Ormas Islam yang ada termasuk golongan yang ke dalam surga sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat tersebut?” Entahlah, dalam beberapa waktu pun saya belum menemukan jawaban yang tepat. Walaupun secara pribadi saya tetap mencari berbagai sumber shahih yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk menjawab kebingungan tersebut.

Di sisi lain, sebetulnya saya juga mengapresiasi munculnya berbagai Harokah dan Ormas Islam dalam komunitas umat Islam. Hal ini merupakan fenomena yang sangat menggembirakan, dan menunjukkan bahwa potensi umat semakin terkristalisasi dalam membangun jati diri komunitas muslim. Keragaman Harokah dan juga Ormas Islam, khususnya dalam bidang garapan, juga menjadi mekanisme efektif bagi proses pengayaan wawasan dan pengalaman. Hal tersebut pada gilirannya, akan mempercepat proses pendewasaan setiap Harokah dan Ormas Islam itu sendiri.

Sebagai upaya menemukan jawaban yang tepat atas berbagai pertanyaan seperti yang saya sampaikan di awal tadi, saya pun terus menerus mencari jawaban dari berbagai tokoh yang berkecimpung dalam Harokah dan Ormas Islam yang ada. Selain itu, saya juga memaksakan diri untuk membaca semua buku-buku yang dituliskan oleh tokoh-tokoh Harokah dan Ormas Islam dari berbagai latar pembahasan dan penerbitan. Alhamdulillah, aktivitas tersebut tetap saya tunaikan sampai sekarang. Di samping itu, saya juga membuka Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai upaya menemukan jawaban atas semua pertanyaan dan kebingungan yang melintasi pikiran saya. Mungkin apa yang saya alami ini dirasakan juga oleh kebanyakan kader KAMMI yang konon dikenal “nakal” dalam memahami Harokah dan Ormas Islam.

Sebagai upaya membagi sekaligus mencari jawaban--apa yang saya sebut--kebingungan tersebut, akhirnya saya pun selalu memberanaikan diri untuk hadir di setiap agenda KAMMI, baik seminar, dialog, madrasah, training maupun semua agenda lain KAMMI yang sempat saya hadiri; baik sebagai peserta maupun sebagai panelis atau pemateri. Salah satunya pada agenda Politic’s Institute KAMMI UPI pada hari/tanggal: Sabtu/6 Maret 2010.

Sebagai informasi, Politic’s Institute merupakan formulasi atau semacam metamorfosa dari Madrasah KAMMI yang sebelumnya--di KAMMI UPI--diformat dalam bentuk Sekolah Politik. Namun karena kondisi tertentu dan beberapa gagasan baru muncul, akhirnya nama Sekolah Politik pun diganti menjadi Politic’s Institute. Bagi saya ini kemajuan yang sangat baik bagi KAMMI. Bahkan saya berani mengatakan bahwa Komisariat yang paling progresif di KAMMI Daerah Bandung yang berada di bawah koordinasi KAMMI Wilayah Jawa Barat adalah KAMMI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). [Semoga keluarga besar KAMMI UPI istiqomah, dan bisa menjadi inspirator gerakan pemuda dan mahasiswa Islam negeri ini!]

Ceritanya begini. Saat itu hari Sabtu, 6 Maret 2010, saya mendapatkan amanah untuk mengisi acara--sebagai pemateri--di Politic’s Institute KAMMI UPI, materi Paradigma Politik Islam dengan tema, “Benarkah selamanya politik itu busuk?”. Acara yang pada awalnya hanya 2 jam tersebut [dari pukul 13.00-15.00 WIB] menjadi bertambah jam. [Dilanjutkan dari pukul 16.00-17.30 WIB]. Sehingga agenda hari itu menjadi 3 setengah jam.

Setelah mengucapkan, “Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barokatuh”, sayapun langsung menjelaskan secara singkat materi yang diamanahkan kepada saya. Sebagai penambah hangatnya diskusi waktu itu, saya juga menyusun makalah sebanyak 6 lembar (11 halaman). Makalahnya saya beri judul “Menelisik Identitas Politik Islam (Membumikan Ideologi, Menginspirasi Indonesia). Judul ini sebetulnya “nulis ulang” tagline buku baru KAMMI--di mana saya diamanahkan oleh Muda Cendekia untuk memberi kata pengantar [judul kata pengantar bukunya, “Karena Mereka Elang Muda]--yang berjudul “Mengapa Aku Mencintai KAMMI” dengan tagline “Membumikan Ideologi Menginspirasi Indonesia.” Selain sebagai publikasi, sebetulnya--memang, lebih tepat--karena apa yang dibicarakan adalah upaya tindak lanjut bukti kecintaan saya terhadap KAMMI, dan juga kader-kadernya yang sudah 12 tahun membumikan ideologi gerakannya dalam kontek menginspirasi Indonesia untuk bangkit, menemukan takdir kejayaannya. Baik sebagai Negara muslim terbesar maupun sebagai salah satu Negara berkembang.

Di awal materi saya menyampaikan prolog [KAMMI adalah gerakan pemuda dan mahasiswa Islam yang memformulasikan diri sebagai gerakan perubahan. Dalam kontek ini KAMMI menjadikan wahyu sebagai titik pijak nalarnya. Karena itu, KAMMI dengan “gagahnya” mengusung gerakan intelektual profetik sebagai salah satu paradigma gerakannya; sebuah gerakan yang berusaha menurunkan nilai-nilai Islam dalam tataran praksis gerakan. Hal ini menjadi sebuah spirit bagaimana KAMMI mengembangkan gerakan intelektual dan melahirkan produk-produk intelektual. KAMMI sudah membuka diri terhadap berbagai gagasan dan pemikiran dari luar format internalnya. Mungkin inilah titik mula terjadinya moderasi intelektual di KAMMI.

Sebagai entitas gerakan perubahan, maka peran KAMMI dalam setiap momentum perubahan merupakan tantangan dan sekaligus tanggung jawab KAMMI. Hal ini menjadi bentuk gerakan politik KAMMI. KAMMI juga merupakan entitas kolektif mahasiswa, karena itu gerakan politik yang diambil KAMMI adalah gerakan politik moral. Namun gerakan politik moral yang KAMMI tunaikan berbasis intelektual atau gagasan.

Karena itu, kegiatan ini hadir sebagai bagian dari bentuk tanggung jawab intelektual tersebut. Keberanian menawarkan agenda bahkan menorehkan gagasan merupakan salah satu ciri masyarakat intelektul (pembelajar). Sebagai manusia biasa di KAMMI, terutama sebagai muslim, saya layak memberikan penghargaan yang tinggi bagi siapapun yang telah berupaya untuk mewujudkan kegiatan ini menjadi kenyataan. Lebih lanjut, tulisan ini mungkin saja mengandung kecacatan, karenanya hendaklah bagi siapapun yang menginginkan perbaikan--bukan saja tulisan tapi juga--isinya untuk mengoreksinya. Hal ini merupakan salah satu upaya kita dalam membangun kolektivitas umat dengan kekayaan ilmu, daya kritis dan cita-cita besar. Selanjutnya, selamat berdiskusi!], kemudian dilanjutkan dengan inti materi. Yang saya sampaikan adalah seputar defenisi dan makna politik, konsepsi politik [kesadaran politik, partisipasi politik dan kepribadian politik], politik dan dakwah, menformulasi trend politik Islam dan lain-lain. Lebih lanjut, saya juga menyampaikan beberapa pernyataan dan pertanyaan yang menurut saya membuat sebagian peserta yang ada pada saat itu jadi kagetan.

“Teman-teman sekalian, defenisi politik sangat banyak, dan referensi yang menjelaskan itu semua juga banyak. Karena itu, silahkan teman-teman sendiri yang mencari apa defenisinya. Namun demikian, kendati banyak ragam defenisi politik dan kiprah manusia secara individu dan kelompok dikemukakan para ahli, esensi yang terkandung dalam defenisi-defenisi dan kiprah politik manusia tetap menekankan unsur-unsur upaya manusia dalam mewujudkan kemaslahatan bersama, terutama yang menyangkut kemakmuran dan ketentraman. Setiap aktivitas, upaya dan perjuangan individu atau kelompok manusia tersebut secara umum dikategorikan sebagai tindakan politik dalam arti luas.”

“Teman-teman sekalian, untuk mengurus urusan publik secara praktis dibutuhkan institusi yang memiliki kewenangan luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Dan salah satu institusi yang berwenang secara luas dan berkedaulatan penuh adalah negara. Dalam konteks proposal peradaban baru yang islami, dengan institusi, umat Islam sebagai lokomotif penggerak dakwah Islam, mempunyai kekuatan dan dukungan kekuasaan untuk merealisasikan Islam dalam kehidupan publik secara menyeluruh.”

“Secara umum tujuan utama manusia dalam kegiatan politik berkaitan dengan keinginan bersama untuk menciptakan keteraturan, rasa aman dan kesejahteraan dalam hidup bersama. Tujuan-tujuan itu dicapai dengan menggunakan sistem yang dapat mengorganisir keanekaragaman individu dan kelompok yang memperjuangkannya. Lembaga yang paling mungkin dapat menampung keanekaragaman tersebut adalah organisasi, masyarakat, bangsa, yang pada tingkat tertentu berbentuk sebuah negara.”

”Sehubungan dengan eksistensi umat, keberadaan negara atau pemerintahan dipandang sebagai perkara yang amat fundamental. Ia merupakan bagian dari sistem dan struktur Islam. Islam mengharuskan adanya pemerintahan sebagai salah satu prinsip dasar sistem sosial yang dihadirkan untuk umat manusia. Dengan demikian, setiap muslim harus berupaya menegakkan pemerintahan yang berpijak pada nilai-nilai luhur Islam yang universal. Untuk itu perlu keberlanjutan perjuangan menegakkan pemerintahan yang menerapkan nilai-nilai luhur Islam sebagai sistem politik. Di sini perlu perjuangan konstitusional dalam rangka menegakkan basis demografis sebagai jalan tegakknya pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam: adil, humanis dan universal. Nah, demi mewujudkan beberapa hal tersebut, maka perlu melalui mekanisme, yaitu politik atau kekuasaan negara.”

Selanjutnya, sebelum dilanjutkan ke cerita lanjutan, alangkah bijaknya jika kita pahami juga apa yang disebut dengan Fiqih Politik; sebuah terminologi yang belum saya jelaskan secara tuntas ketika mengisi acara Politic’s Institute. Dalam buku Fiqih Politik Hasan Al-Banna, Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris menjelaskan secara ringkas mengenai politik. Kata fiqih secara bahasa adalah bentuk “mashdar” dari kata kerja lampau yaitu “faqiha.” Arti kata fiqih adalah al-fahmu (pemahaman) dan kecerdasan. Makna fiqih bukan sekedar mengetahui tetapi pemahaman yang mengaharuskan pemakaian akal, menggunakan pemikiran serta mencapai kepada pemahaman itu setelah melalui usaha yang sangat keras. Fiqih menurut istilah tidak dapat diperoleh setiap orang tetapi hanya diperoleh oleh sebagian orang saja, yaitu yang memiliki kemampuan. Coba kita pahami makna yang terkandung di dalam beberapa ayat berikut ini:


“Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Al-An’am: 98)


Fiqih seperti ini tidak dapat dicapai oleh orang kafir dan orang munafik, Allah berfirman,


“Disebabkan oleh orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (Qs. Al-Anfal: 65)


Tentang orang munafik Allah berfirman,


“Katakanlah, “Api neraka jahanam itu lebih sangat panas, jika mereka mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 81)


“Tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” (Qs. Al-Munafiqun: 7)


Fiqih dalam istilah syara’ adalah menggali hukum-hukum syara’ yang praktis dari dalil-dalil yang rinci.

Sedangkan kata politik dalam bahasa Arab diambil dari kata “saa-saa.” Bentuk fa’ilnya adalah “saa-is” dan bentuk masdarnya adalah “siyasah” yang berarti pemeliharaan. Arti dari kalimat “saa-sa al-umata” adalah memperhatikan urusan umat.

Sedangkan kata “siyasi” atau “politikus” adalah orang yang memperhatikan urusan umat secara mendalam serta menyelesaikannya dengan pendapat-pendapat atau pemikiran-pemikiran yang benar. Jadi, Politikus Muslim adalah seorang muslim yang memiliki komitmen dengan agama Islam yang menyelesaikan urusan-urusan umat Islam sesuai dengan pandangan Islam dan hukum syari’at dan petunjuk-petunjuknya. Demikian sementara penjelasan terkait fiqih politik (siyasah).

Singkat cerita, melelahkan memang, namun saya bahkan semua yang hadir pada agenda tersebut memperoleh banyak keunikan. Bagaimana tidak, sejak awal saya menyampaikan materi sebagian peserta yang ikut--yang hadir sekitar 70 peserta--mengangguk-ngangguk. Saya tak begitu mengerti apakah mereka mengangguk-ngangguk karena mengerti atau tidak. Yang jelas begitu faktanya. Bahkan sejak awal materi beberapa orang peserta pun sudah mengangkat tangan sebagai intrupsi mereka atas apa-apa yang saya sampaikan. Karena memang waktu itu saya sengaja mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menurut saya bisa menabrak apa yang sudah menjadi pemikiran dan pemahaman mereka selama ini. Karena memang yang hadir pada saat itu bukan sekedar kader KAMMI tapi juga dari berbagai latar organisasi. Salah satu yang sangat jujur mengenalkan dirinya waktu itu adalah seorang akhwat (muslimah) Hijbu Tahrir Indonesia (HTI); di mana darinyalah awal--apa yang sebut sebagai--barokah Politic’s Institute diperoleh.

Ceritanya begini. Saya mengisi acara ini mulai pukul 13.00 WIB lebih. Waktu itu saya mengeluarkan beberapa pernyataan yang boleh jadi tidak selalu sejalan dengan pemahaman peserta yang hadir, apalagi kader-kader KAMMI dan HTI. Karena memang politik adalah salah satu aspek yang menjadi fokus garapan kajian mereka. Bahkan respon sosial yang mereka ekspresikan selama ini memang karena mereka memiliki “muyul” yang tinggi terhadap politik. Waktu itu saya mengeluarkan pernyataan dan pertanyaan sebagai berikut, “Politik itu busuk”, “Saya belum menemukan dalil berupa ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan secara langsung kata-kata siyasah (politik), karena itu saya masih belum cukup paham tentang politik dalam pemahaman yang mendalam”. “Saya tak bermaksud meragukan kesempurnaan Islam, karena yang saya maksud adalah keterbatasan saya dalam menemukan dalil tentang politik (siyasah) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah”, “Bacakan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang secara teks menggunakan kalimat siyasah, politik”, dan seterusnya.

Selain itu, saya juga sempat menyampaikan, “Politik itu rumit dan merumitkan pikiran. Yang dibutuhkan di sini adalah kecerdasan serta kemampuan menemukan jawaban yang tepat terkait dengan kebingungan tersebut”, “Politik adalah ilmu tentang kemungkinan, karena itu yang dibutuhkan adalah kemampuan analisa yang utuh, agar ia terdefenisi dengan pemaknaan yang mendalam.”

“Di samping itu, setiap orang yang ingin memahami makna politik juga mesti memiliki kekuatan pengetahuan sekaligus referensi semacam pustaka mengenai politik, baik menurut atsar sahabat, tabi’in, ulama-ulama setelah mereka maupun para cendekiawan yang telah mengeluarkan pendapat terkait dengan politik dalam Islam. Usulan saya, silahkan baca buku Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin, Siyasah Syar’iyah karya Ibnu Taimiyah, Al-Ahkam As-Sulthoniyah karya Al-Mawardi, Agama dan Negara karya Mohammad Natsir, Muqadimah karya Ibnu Kholdun dan seterusnya.” “Atau teman-teman silahkan baca juga buku-buku Kuntowijoyo seperti, Paradigma Islam (Interpretasi untuk aksi), Identitas Politik Umat Islam. Semuanya diterbitkan oleh Mizan Bandung.” “Buku Dari Gerakan ke Negara-nya Anis Matta juga layak teman-teman baca. Selain itu juga, silahkan baca juga buku Manhaj Haroki 1 dan 2 karya Dr. Munir Al-Ghodban atau Fiqih Politik Hasan Al-Banna karya Dr. Muhammad Abdul Qadir Abdul Faris. Silahkan dibaca dan dipahami!”

“Mengapa saya mengusulkan untuk menggali secara tuntas makna politik dari buku-buku tersebut? Jujur, saya pernah sedikit membaca buku-buku tersebut. Dan saya menduga dengan kuat bahwa buku-buku tersebut adalah referensi yang sangat relevan bagi aktivis bahkan para pengamat politik Islam--atau politik secara umum--dalam memahami politik secara sempurna.”

Singkat cerita, saya pun sampai kepada apa yang saya sebut dengan “Barokah Politic’s Institute”. Sekarang tibalah saatnya sesi diskusi; tanya jawab. Seorang akhwat pun bertanya kepada saya. Seingat saya akhwat tersebut adalah akhwat (Muslimah) HTI. Dia bertanya seputar kekhalifahan, yang saya sederhanakan ke beberapa pertanyaan berikut ini. “Apakah kepemimpinan dengan sistem khilafah itu wajib?”, “Apakah toriqoh dan uslub itu tsawabit atau muthaghoyirat?”, dan seterusnya.

Selanjutnya, waktu itu saya juga mengingat beberapa orang ikhwan (mahasiswa) bagian dari peserta bertanya, “Apakah kepemimpinan setelah khalifah yang empat [Abu Bakar, Umat, Utsman dan Ali] itu sunnah atau ‘bid’ah’?” “Bagaimana pemahaman pemateri sebagai kader KAMMI tentang kekholifahan dalam Islam?” “Bagaimana cara mengkompromikan antara sesuatu yang sifatnya “idealita” dengan “realita” seperti ketika pengharaman khamer (minuman keras) itu bertemu dengan fakta masyarakat yang memiliki pemahaman bahwa hal itu merupakan kebiasaan dan sudah menjadi hal yang wajar di masyarakat?”, dan seterusnya.

Ketika itu saya memberikan jawaban sedanya, sesuai dengan apa yang saya pahami selama ini. “Apapun pertanyaan teman-teman semua, itulah wujud cinta kita kepada agama ini, dinul Islam dengan kemenyeluruhan dan kesempurnaan ajarannya. Selain itu, saya masih belajar, bahkan sampai saat ini masih mendalami beberapa buku yang saya sebutkan di atas tadi. Karena itu, apa yang saya sampaikan saat ini hanyalah pendapat pribadi yang unsur subjektivitasnya cukup besar. Atas dasar itulah saya berharap agar apa yang saya sampaikan ini dikoreksi secara total, biar apa yang kita peroleh dari agenda ini tidak menambah kebingungan; sebaliknya menambah wawasan dan pemahaman kita menuju kebaikan Islam dan kaum muslimin di masa depan. Selanjutnya, mari berdiskusi!”

“Bagi saya, khilafah adalah kekuasaan umum yang paling tinggi dalam Islam. Orang yang menjabatnya disebut sebagai khalifah. Ia memiliki hak dan kewajiban tertentu. Konsep kekhalifahan adalah konsep yang istimewa. Dan dia adalah sesuatu yang tsawabit (baku, tetap) dalam Islam. Ketsawabitannya lebih utama terletak pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai utamanya. Dan contoh terbaik yang melakoni semua itu adalah para khalifah empat yang pertama. Sebagai sistem, prinsip dan nilai sistem kekhalifahan yang sudah terjadi pada masa para sahabat itu adalah model bagi kepemimpinan. Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apakah metodologi, sarana dan cara yang dipakai untuk melahirkan seorang khalifah dalam tampuk kekhalifahan itu baku atau berubah, atau bahkan disesuaikan dengan zamannya.”

“Saya berpandangan bahwa sistem, prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilainya adalah baku. Namun, coba kita komparasikan dengan apa yang terjadi antara keempat khalifah yang pertama dengan setelah mereka. Bentuknya tidak selalu seperti sebelumnya. Bahkan kemudian--menurut sebagian pendapat mengatakan bahwa seakan-akan seperti--dinasti dan kerajaan. Saya masih berkeyakinan bahwa para ulama atau para pemimpin umat ketika itu tidak mungkin bersepakat dengan kemaksiatan atau kesesatan dengan menghadirkan formulasi kekhalifahan. Seandainya mereka memformulasikan bentuk kekhalifahan seperti itu dan itu ternyata tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka sungguh ini merupakan sejarah kelam yang sangat membahayakan. Lalu kepada siapa kita mencari teladan atau memperoleh kebenaran ajaran-ajaran Islam seperti yang kita pahami saat ini? Karena itu sekali lagi, mungkin namanya bukan khalifah tapi isinya adalah sistem, prinsip dan nilai-nilai kekhalifahan. Secara prosedural mungkin tidak khalifah, tapi secara substansi adalah khalifah. Dari situlah saya berpendapat bahwa sistem itu tidak terpaku pada namanya, tapi pada prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai utama yang terdapat bentuk sistem yang ada. Jadi, sistem kekhalifahan itu wajib, tapi dia tidak terpaku pada nama. Hal ini sekaligus sebagai jawaban sederhana saya sebagai kader KAMMI.”

“Lalu terkait dengan toriqoh dan uslub. Toriqoh itu adalah jalan, sementara uslub itu adalah cara. Toriqoh itu misalnya tahapan-tahapan dakwah, sedangkan uslub itu cara. Kira-kira seperti apa saja. Uslub (Cara), misalnya, dengan cara perang, hijrah, delegasi, masuk perlemen atau seperti apa misalnya. Sementara Toriqoh (jalan) adalah sistematika atau pentahapan, yang dalam Ikhwanul Muslimin dikenal dengan istilah Marotibul ‘Amal,” tahapan ‘amal.

“Dalam buku-buku Ikhwanul Muslimin kita dapat penjelasan mengenai Marotibul ‘Amal (tahapan ‘amal) berupa, pembentukan pribadi islami, pembentukan keluarga islami, pembentukan masyarakat islami, perubahn hukum, pembentukan Negara islami, penyatuan Negara-negara Islami dan yang terakhir adalah soko guru peradaban dunia. Dalam HTI kita kenal istilah toriqoh (jalan), yang kalau dikaji secara sederhana tidak begitu jauh bedanya dengan apa yang ada dalam konsep Ikhwanul Muslimin sebagaimana yang saya jelaskan di atas. Artinya, secara prinsipil tidak ada perbedaan. Coba saja kaji kembali beberapa ide, konsep atau sistem yang ditawarkan oleh Harokah tersebut dalam berbagai literature--seperti buku, kitab atau buletin--mengenai gagasan mereka; baik yang ditulis oleh para pengamat maupun tokoh-tokoh mereka. Secara sederhana, dari situ saya berpendapat bahwa tidak ada yang membuat Harokah itu jadi bentrok. Justru yang satu menjelaskan yang lain, begitu juga sebaliknya. Semuanya berujung pada titik yang sama, Kholifah.”

“Dalam konteks bagaimana memahami kepemimpinan, politik dan pasal-pasal duniawi dalam Islam tidak begitu jauh. Bedanya cuma di penyebutan atau pengistilahan, dan tentu beberapa hal lain yang secara umum tidak begitu prinsipil. Begitu juga dengan uslub (cara), tidak begitu berjarak bedanya. Lalu, kalau demikian, mengapa bukan generasi muda Islam ini saja yang menjadi inspirator untuk menghadirkan semua Harokah dan Ormas Islam yang ada untuk duduk bersama, dan membicarakan hal-hal yang memang mesti dibicarakan; terutama terkait kebangkitan umat di masa depan?”

Lalu akhwat dari HTI itu intrupsi. “Akhi, coba dibedakan antara Toriqoh dan Uslub. Saya belum mendapatkan penjelasan yang jelas.” Menjawab intrupsi tersebut, saya pun mengulangi kembali apa yang saya jelaskan di atas. Suasana ruangan semakin ramai. Sayapun memberikan penjelasan dengan sesuatu yang lain. “Teman-teman sekalian, kekhalifahan itu adalah keniscayaan. Dan sekarang kita bertemu (berhadapan) dengan masyarakat bahkan Harokah dan Ormas Islam yang beragam dengan keanekaragaman gagasan dan pemikirannya. Begini saja sekarang, kita kosongkan diri kita dari pemahaman lama atau berdasarkan ijtihad Harokah atau Ormas Islam di mana kita aktif. Terutama teman-teman KAMMI atau HTI. Atau dari mana pun Harokah dan Ormas Islam tempat kita berasal. Sekarang anggap saja Indonesia ini lagi tidak memiliki pemimpin. Kira-kira siapa yang kita pilih menjadi pemimpin, apa namanya, dengan cara apa dan seperti apa? Coba teman-teman baca lagi sejarah mengenai pemilihan khalifah empat yang pertama. Saya tidak perlu menjelaskan terlalu jauh. Cukup teman-teman sendiri yang menyimpulkan.”

“Sebagai tindaklanjut dari penjelasan ini saya ingin mengatakan sesuatu kepada teman-teman bahkan diri saya sendiri. Kita sebagai umat Islam bahkan sebagai sebuah bangsa, selama ini terlalu lama terjebak dengan masalah-masalah prosedural dan tidak menyentuh masalah substansial. Keterasingan kita dengan ilmu menyebabkan kita menjadi komponen yang sering terjebak dalam istilah-istilah tidak secara total, padalah isi atau substansi dari istilah yang berbeda adalah sama. Benar-benar sama. Yang terpenting dari sebuah istilah atau terminologi, terutama terminologi yang sering dipakai dalam dunia Harokah. Saya justru ingin bertanya seperti ini, “Apakah istilah uslub atau toriqoh itu tsawabit?”.

“Teman-teman sekalian, mari kita memahami Islam ini serta isi ajarannya dengan kerangka nalar yang utuh dan mendasar. Apa yang penting dari Islam adalah nama dan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ajaran yang terkandung di dalamnya. Dan itu sesuatu yang baku dalam Islam. Hal ini bisa saya contohkan dalam pasal-pasal mengenai Iman, Islam dan Ihsan. Semua itu adalah sesuatu yang tsawabit (baku). Yang kemudian para ulama sering mengenalnya sebagai prinsip-prinsip dasar dalam Islam. Lalu berikutnya selain itu adalah urusan muamalah yang secara jelas sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti mengenai pewarisan, pernikahan, jual beli, wakaf dan lain-lain. Lalu berikutnya adalah urusan-urusan muamalah yang secara umum sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tapi dalam waktu tertentu butuh penalaran akal. Termasuk urusan kepemimpinan, politik dan seterusnya.”

“Nah, sekarang kita berbicara politik. Kalau kita mengkaji Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka boleh dikatakan bahwa secara prinsipil, kerangka umum terkait dengan hal tersebut sudah ada. Namun, karena dia adalah aspek muamalah yang tak terpisahkan dengan urusan duniwai manusia, maka dalam hal ini manusia sebagai pelaku dan juga objeknya mesti menggunakan akal. Jadi di sini, yang menjadi titik fokusnya adalah ijtihad. Nah, karena dia adalah masuk dalam klasifikasi ini, maka pendapat yang timbul dan muncul darinya pun menjadi beragam. Tentu dengan catatan bahwa hal-hal prinsip tetap terjaga, seperti tidak berlawanan dengan Rukun Iman, Rukun Islam dan hal-hal prinsip lain dalam Islam. Hal-hal prinsip yang sangat terkait dengan politik atau kepemimpinan adalah--paling tidak sebagai berikut--musyawarah, kemaslahatan, penghargaan terhadap akal, argumentasi, keadilan, toleransi dan seterusnya.”

Mengomentari intrupsi akhwat (mahasiswi) HTI tersebut, saya pun memberikan sedikit penjelasan, “saya ingin secara jujur untuk mengatakan bahwa semu kita, tentu sangat merindukan kepemimpinan kekhalifahan. Dan sekarang kita sedang berada dan berhadapan dengan realita bahwa kebanyakan orang--masyarakat, terutama umat Islam tidak mengerti bahkan tidak tahu (atau mungkin tidak mau tahu--dengan apa maunya kita, baik sebagi Harokah maupun sebagai Ormas Islam. Mereka tidak tahu apa maunya kita, apa maunya Harokah Islam. Jangankan berbeda Harokah atau Ormas Islam, sama-sama Harokah dan Ormas Islam juga berbeda pendapat, apalagi kalau tidak terlibat dalam komunitas Harokah dan Ormas Islam. Rumit memang, tapi begitulah faktanya. Apa yang kita sebut sebagai khalifah itu sangat ideal, dan tentu itu menjadi hal yang tak mungkin kita singkirkan dari ruang pikiran, obsesi dan cita-cita kita.”

“Karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk sekali-lagi berpikir sederhana. Mari pahami pesan sejarah di balik keunikan kepemimpinan Islam ketika khalifah yang empat memimpin, atau juga setelahnya. Lebih lanjut, saya mengajak teman-teman semua untuk berpikir sederhana dan mengatakan secara jujur bahwa dalam konteks politik dan kepemimpinan terminologi itu bukanlah segalanya, itu hanya prosedural, sementara yang mesti kita maksimalkan adalah substansinya. Fungsi atau peran kepemimpinan misalnya, dan seterusnya. Uslub, toriqoh, marotibul ‘amal fikroh ataupun istilah lain yang muncul bereserakan hanyalah istilah yang boleh jadi “terjemahan” atau “pemaknaan” bagi masing Harokah atau Ormas Islam berbeda-beda. Namun demikian, saya kembali mengingatkan bahwa substansi dari apa yang dijelaskan dari masing-masing Harokah atau Ormas Islam--minimal yang saya atau mungkin yang pembaca peroleh dari buku-buku mereka--adalah sama. Lagi-lagi, ujung-ujungnya adalah tegaknya Islam, menjadi Soko Guru Peradaban Dunia.”

“Jadi, bagi saya Ikhwanul Muslimin, PKS, HTI, Gema Pembebasan, Muhammadiyah, Nahdhatul ‘Ulama, Persatuan Islam, Persatuan Umat Islam atau yang lainnya adalah saudara KAMMI. Semua yang saya sebutkan atau Harokah dan Ormas Islam yang belum saya sebutkan itu adalah asset umat, kekuatan umat. Mereka bukan siapa-siapa selain bagian yang memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengembalikan kejayaan Islam, bukan saja di negeri ini tapi juga ke seluruh penjuru dunia. Nah, sekarang kerjaan atau PR kita adalah menjadi fasilitator sekaligus peserta yang akan menginisiasi untuk mendudukkan semua Harokah dan Ormas Islam yang ada pada ruang yang sama, dan duduk bersama. Kita mesti mencari titik temu di balik keragaman ide besar yang sudah lama menghiasi berbagai macam Harokah dan Ormas Islam yang ada. Kita sama-sama menginginkan khalifah kok, tapi kita perlu obrolin secara matang, dan yang lebih penting lagi bangun pemahaman secara menyeluruh terkait Islam dan sistem-sistem yang terapat di dalamnya. Biar apa yang kita ingin wujudkan, bukan iklan tapi internalisasi secara utuh Islam kepada diri kita sendiri, berikutnya kita bumikan ke seluruh lapisan umat sebagai entitas yang tak terpisahkan dari apa yang kita sebut sebagai komunitas gagasan. Jujur, secara pribadi sangat rindu generasi muda Islam dari berbagai Harokah dan Ormas Islam bisa duduk bersama dan mengawali semua apa yang saya sampaikan tadi. Biar politik yang kita bangun bukan politik kotor sebagaimana yang disinggung oleh tema agenda Politic’s Institut. Begitu, bagaimana…jelaskan? Itu jawaban singkat saya terkait Kekhalifahan yang ditanyakan oleh akhwat HTI dan Ikhwan KAMMI tadi.”

Tanpa aling-aling akhwat HTI yang bertanya tadi pun langsung angkat bicara. Saya tidak begitu ingat kata-kata yang disampaikan oleh akhwat itu pada waktu itu. Yang jelas dia sangat antusias dan semangat bahkan menerima semua apa yang saya jelaskan. Lalu, kalau tidak salah dia langsung mengatakan, “Dari apa yang disampikan oleh pemateri tadi bisa dikatakan bahwa kita memiliki cita-cita mulai, meneggakan panji Allah, Al-Islam. Kita memiliki kewajiban yang sama…. HTI dan KAMMI itu sama. Sama-sama mengusung kepemimpinan umat dengan model khilafah sesuai dengan keadaan di mana kita sekarang. Uslub, toriqoh hanyalah istilah dan bukan substansi. Yang substansi adalah apa isi dari istilah-istilah tersebut seperti yang disampaikan oleh pemateri, akhi tadi…. Pada kesempatan ini saya ingin mengatakan mari tegakkan izah Islam dan kaum muslimin. Tidak ada izah tanpa syari’ah, tidak tegak syari’ah tanpa khilafah. Allahu Akbar!” Yang lain pun ikut bertakbir.

“Selanjutnya saya mencoba untuk memberikan jawaban terkait dengan pertanyaan Akhi Ade dari kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA). Teman-teman sekalian, pada prinsipnya, sesuatu yang dijelaskan secara langsung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka itu adalah sesuatu yang ideal. Dan karena itu ia juga baku (tsawabit). Namun demikian, sesuatu teori, hukum, aturan atau nilai-nilai syari’ah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terkadang bertemu dengan realita yang pragmatis, bahkan bertabrakan langsung dengan apa yang kita sebut sebagai idealita. Nah, sekarang terkait masalah khamer atau minuman keras. Dalam Al-Qur’an sudah jelas. Mungkin yang ingin dibahas pada kontek ini adalah masalah bagaimana mengamalkan ajaran Islam seperti tentang “minuman keras” ini didakwahkan ke ruang publik dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.” “Sampai ada yang berpendapat, ‘banyak yang mabuk’ dan ‘menganggap itu sudah menjadi kebiasaan’, dan karena itu tidak perlu dilarang.”

“Untuk menjawab permasalahan ini, terutama terkait menjalankan ajaran tersebut dalam kontek politik, di sini saya ingin menjelaskan seperti ini. Teman-teman mungkin pernah membaca bukunya Kuntowijoyo seperti Idenitas Politik Umat Islam atau Paradigma Islam (Interpretasi Untuk Aksi). Dalam kedua buku tersebut kita bisa menemukan penjelasan yang tepat untuk menjawab sekaligus menjelaskan pertanyaan ini. Dari kedua buku tersebut saya memperoleh penjelasan yang kemudian saya elaborasi, lebih jelasnya silahkan baca dalam makalah yang teman-teman baca.”

”Dalam Islam ada ketentuan bahwa orang mesti menetapkan hukum berdasar hukum Allah. Itulah yang menjadi dasar mengapa berbagai negara bermayoritas umat Islam berobsesi untuk menegakkan syari’at Islam. Terkait hal ini, dalam konteks Indonesia dengan berbagai macam sosio-kulturalnya, gagasan (ide) objektivikasinya Kuntowijoyo sangat relevan. Objketivikasi Islam tetap mengakui bahwa al-Qur’an adalah sumber hukum. Perbedannya terletak pada prosedur dan bukan pada hal yang substansial. Objektivikasi Islam akan menjadikan al-Qur’an terlebih dahulu sebagai hukum positif, yang pembentukannya atas persetujuan bersama semua warga negara melalui wakil-wakilnya di Perlemen atau lembaga negara yang berwenang. Dengan demikian tidak serta merta syari’at Islam ditegakkan, karena ia mesti melalui proses objektivikasi. Karena itu, ungkapan menegakkan hukum Allah mesti diobjektivikasi dalam sejumlah peraturan perundang-undangan, instruksi, petunjuk pelaksana, petunjuk teknis dan lain-lain. Terkait minuman keras sebagaimana yang disampaikan oleh penanya tadi, maka secara politik kita bisa menyelesaikannya dengan menggunakan teori objektivikasinya Kuntowijoyo tersebut. Kita tidak perlu terjebak dengan hal-hal yang prosedural seperti harus menjadikan ayat-ayat al-Quran sebagai pasal-pasal dalam konstitusi, tapi dengan cara yang lebih sederhana tapi substansial.”

Tanpa bermaksud memperpanjang cerita, namun hal ini perlu saya sampaikan, minimal melalui tulisan ini. Oleh beberapa orang atau oleh sebagian pembaca, mungkin menganggap apa yang disampikan oleh akhwat HTI tadi sebagai keberhasilan dia dalam menguasai forum atau apa yang saya sebut sebagai “dialog”. Tanpa bermaksud memaksakan gagasan pribadi, dari pernyataan akhwat tersebut saya menyimpulkan bahwa sebetulnya antara Ikhwanul Muslimin, HTI, PKS, KAMMI atau beberapa Harokah dan Ormas yang ada itu tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Justru yang terlihat--minimal dari apa yang dismpaikan oleh Akhwat tersebut--adalah persamaan pandangan dan gagasan. Bahkan seketika saya berpikir kalau ke depan KAMMI perlu juga melakukan dialog atau menyelenggarakan dialog terbuka intern Harokah dan Ormas Islam, untuk membahas berbagai permasalahan umat atau bangsa ini. Apalah materinya silahkan dibicarakan, yang penting kita semua memiliki pandangan yang sama, bahwa Islam mesti tegak. Dan saya sangat sepakat, KAMMI mesti mengambil peran-peran itu. Tentu tetap terkoordinasikan dengan sistem atau mekanisme yang dipakai oleh KAMMI.

Selain itu, dari apa yang disampikan oleh ahkwat HTI tersebut adalah salah satu bukti bahwa politik berbasis Islam sekaligus gerakan berbasis ukhuwah (persaudaraan) itu sangat penting dan ternyata menjadi nilai-nilai yang semuanya diusung oleh semua Harokah, minimal perwakilan dari berbagai Harokah dan Ormas Islam yang hadir dalam agenda Politic’s Institute yang diadakan oleh KAMMI UPI tersebut.

Lebih lanjut, saya semakin yakin bahwa apa yang kita sebut sebagai “Paradigma Politik Islam” adalah sebuah terminologi yang layak untuk kita diskusikan secara matang. Sebab, apa yang dibicarakan pada kesempatan tersebut barulah mukadimah atau semacam prolog yang mengawali atau pemantik diskusi, yang insya Allah akan kita lanjutkan pada masa-masa yang akan datang.

Banyak hal saya peroleh bahkan mungkin juga teman-teman panitia dan peserta yang hadir pada saat itu. Ada dialog antar Harokah yang berbasis pada nalar intelektual, ada penguatan barisan generasi masa depan umat dengan penguatan ukhuwah (persaudaraan) dan yang paling penting lagi adanya obsesi bersama untuk duduk bersama dalam sebuah agenda besar dengan rencana agenda “membicarakan masa depan umat Islam dan peradaban dunia.”

Sekedar mengingatkan--karena bagi saya ini penting--ketika itu sebelum mengakhiri pembicaraan sebagai pemateri waktu itu saya sampaikan pernyataan yang saya elaborasi--menjadi--sebagai berikut, “saudara-saudara sekalian, Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali telah lama pergi dan takkan kembali lagi. Tokoh-tokoh umat yang melanjutkan peran-peran mereka juga sudah mendahului kita. Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Mohammad Natsir, Hamka dan juga pejuang-pejuang Islam juga telah lama mendahului kita….Kepemimpinan umat dengan Islam sebagai pijakannya adalah prinsip, dan karena itu adalah keniscayaan bagi kita untuk mewujudkannya. Di manapun kita beraktivitas, apapun latar belakang organisasi, Harokah dan Ormas Islam kita. Khalifah, penegakkan Islam atau apapun terminologi seputar kebangkitan Islam bukanlah hak mutlak isu atau trend satu atau dunia komunitas Harokah dan Ormas Islam. Ia adalah hak semua umat Islam. Dari mana dan di mana pun mereka berasal dan beraktivitas…. Renungilah bahwa para ulama di masa lalu sudah memberikan yang terbaik bagi kita bahkan Islam. Hal itu bisa kita lihat buku-buku biografi atau kitab-kitab yang mereka tulis. Mereka telah memberi apa yang mereka punya, dan melakukan apa yang mereka bisa. Kerja kita sekarang adalah melanjutkan apa-apa yang terbaik di masa lalu itu, dan memformulasikannya di masa kini.”

“Khalifah itu bukan iklan atau sekedar trend politik dan isu besar gerakan. Namun ia adalah kerja-kerja kecil. Ia adalah kerja-kerja sederhana. Masihkah kita ingat sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa jika menginginkan kekhalifahan maka jadikanlah nilai-nilai kekahlifahan itu pada dirimu, maka niscaya kekhilafahan akan terwujud? Semua peserta ikhwan (mahasiswa) yang hadir di sini memiliki bakat untuk menjadi kholifah, dan akhwat (mahasiswi) tidak memiliki bakat itu; dan wanita memang tidak memiliki bakat dan peluang untuk menjadi khalifah. Namun, percayalah bahwa khalifah itu bukan lahir di mana-mana dan jangan mencarinya di mana-mana. Kita memiliki bakat yang sama untuk menjadi khalifah, namun janganlah kiranya mencari dan membentuk kapasitas khalifah itu kepada selain diri kita. Karena sekali lagi, kita memiliki bakat yang sama untuk itu, kita memiliki peluang yang sama untuk itu. Dan janganlah kiranya mengharapkan hadir dan lahirnya di luar sana, karena ia akan lahir dari ruang ini. Ia adalah aku, kau dan dia. Tapi kalau kita tidak menemukan diri kita dengan takdir sebagai khalifah, maka--walau akhwat (mahasiswi) yang hadir di sini tidak memiliki bakat dan peluang menjadi khalifah--biarlah mereka yang akan melahirkan khalifah itu kelak. Dan itu adalah takdir terbaik yang sama-sama kita mimpikan. Menjadi Ibu Khalifah dan Ayah sang khalifah. Sehingga apa yang kita sebut sebagai politik Islam benar-benar menjadi trend peradaban yang implementatif. Selain itu ia benar-benar menjadi warna baru bagi proposal kita dalam menaklukan peradaban dunia dengan Islam. Allahu Akbar!”

Demikian sedikit catatan saya mengenai apa yang saya alami atau fenomena yang terjadi dan “bonus” yang saya peroleh dari kegiatan Politic’s Institute KAMMI UPI pada Sabtu/6 Maret 2010. Jujur, banyak hal-hal istimewa yang saya temukan dan dapatkan. Nah, untuk menyederhanakan semua itu, secara tulus, saya lebih senang menyebutnya sebagai “Barokah Politic’s institute”. Lebih dari sekedar relevan, judul “Barokah Politic’s Institute (Refleksi atas dialog singkat ‘HTI’ dan ‘KAMMI’) adalah sebuah kenangan terindah yang tidak akan saya lupakan. Selamat mengambil hikmah!

» Read more → BAROKAH POLITIC’S INSTITUTE

BIARKAN KECEMERLANGAN ITU BERSEMI!


BIARKAN KECEMERLANGAN ITU BERSEMI!
(Kecemerlangan di balik Kecemerlangan)
Oleh: Syamsudin Kadir

Anis Matta yang saya kenal

Tanpa bermaksud melegendakan narcisme personal, saya perlu mengatakan secara jujur bahwa secara pribadi saya memiliki hubungan emosional dengan Ust. Anis Matta. Paling tidak, saya dan beliau sama-sama suka musik dan seni (seperti karya-karya Ebit G Ade, Iwan Fals, Taufik Ismail, Iqbal, Kuntowijoyo). Di samping itu, beliau dan saya sama-sama perantau [terlalu lama tidak tersentuh lagi oleh pelukan tangan Ibu dan Ayah tercinta], hidup bertahun-tahun di pesantren dengan cerita-cerita khasnya: makan apa saja dengan kadar nasi dan lauk apa adanya; ngaji kitab kuning “sambil terpaksa” sampai “kepala botak”; kondisi fasilitas kamar mandi yang menyebabkan kata “mandi” menjadi bahan olokan; dan memang mandi menjadi pekerjaan yang bisa dihitung jari. Begitulah pesantren mengajarkan sebuah potret kehidupan yang tidak semuanya layak ditiru.

Saya tak bermaksud membedah perjalanan unik kehidupan pesantren, sama sekali tidak. Yang ingin saya katakan adalah bahwa masa lalu Ust. Anis Matta dan kebanyakan anak pesantren--termasuk saya--semuanya hampir sama. Dan itulah salah satu jembatan yang menghubungkan saya dengan beliau.

Tapi percayalah itu hanya sedikit cerita. Yang paling penting dari Ust. Anis Matta adalah gagasannya. Gagasan-gagasan Ust. Anis Matta--walau lewat tulisan, di samping beberapa kali pernah bertemu, mendengarkan pemaparan-pemaparan beliau--banyak mempengaruhi saya. Ini merupakan keunikan beliau. Baik [1] cara berpikir, cara berkomunikasi, cara merencanakan kehidupan maupun yang lainnya.

Saya pernah membaca beberapa buku karya beliau seperti: Model Manusia Muslim Abad 21, Menuju Cahaya, Membangun Peradaban yang Berkeimanan, Arsitek Peradaban, Dari Gerakan Ke Negara, Menikmati Demokrasi, Biarkan Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, Mencari Pahlawan Indonesia, Berdo’a itu ada seninya dan Serial Cinta. Semua buku tersebut sangat mempengaruhi saya. Gagasannya benar-benar mempesona. [2] Pesona dalam segala aspeknya; gaya bahasa, diksi, ide dan pesan-pesannya.

Di antara keunikan lain yang membedakannya dari penulis-penulis lain adalah [3] kemampuan beliau untuk menjelaskan sesuatu sesuai dengan pesan-pesan (nalar) wahyu, dengan tanpa menegasikan logika akal dari berbagai aspek. Inilah yang saya sebut dengan intelektual profetik. Kemampuan seperti ini jarang kita temukan. Mungkin kita masih teringat Sayyid Quthb, Iqbal, Kuntowijoyo dan lain-lain dengan kekhasannya masing-masing. Namun, Ust. Anis Matta termasuk kategori yang unik. Beliau mempunyai [4] kemampuan untuk menjelaskan sesuatu dari berbagai disiplin ilmu; sejarah, psikologi, bahasa, budaya dan peradaban. Sehingga sesuatu yang rumit jadi jelas bahkan sangat mudah dipahami, di samping komplit atau menyeluruh.

Beliau mengungkapkan dengan [5] diksi dan sistematika yang unik. Misalnya bagaimana beliau menjelaskan tentang cinta--sebuah materi pembicaraan yang paling digandrungi anak-anak remaja, bahkan juga mahasiswa-mahasiswi. Banyak orang yang belum mampu menjelaskan secara utuh tentang “mengelola cinta yang ambisius dan serba menggelora,” “Perasaan dan apa yang melanda para pecinta ketika cinta menyapa,” “Dari mana cinta datang dan ke mana cinta menghilang,” atau bahkan “apa itu cinta” dan seterusnya.

Sepertinya pertanyaan seputar cinta tak akan pernah habis dan selesai. Manusia memang bisa bertanya, tapi kebanyakan orang tak akan pernah menemukan definisi yang paling pas, yang paling tepat dan paling seksama. Pasti selalu ada yang lemah, dan tidak setara, dalam setiap memberikan defenisi. Jadi, ada di antara mereka yang tak sepenuhnya bisa mereka ungkapkan ketika berbicara cinta. Mungkin karena itu banyak orang membuat media-media abstrak: puisi, alegori, lagu, lukisan, mitos, untuk menggambarkan cinta; untuk menggambarkan seluruh fenomena emosi dan stimultan yang tengah mereka rasakan, namun tak sepenuhnya juga bisa diungkapkan.

Satu hal yang jelas, Ust. Anis Matta hadir kepada pembaca dengan menawarkan sebuah jalan alternatif. Sebuah wacana, sebuah ide, sebuah gagasan baru tentang topik perbincangan yang tak selesai-selesai selama berabad-abad itu. Mungkin tidak semuanya baru tapi Anis mampu mengemas dan menampilkannya menjadi sesuatu yang segar dan pembaca “dipaksa” untuk merenungkannya. Sehingga setiap halaman dalam bukunya Serial Cinta adalah sebuah cerminan pendekatan terhadap ide besar; kesederhanaannya bercerita, limpah perhatiannya pada detil dan hal kecil dari kehidupan tentang pengelolaan cinta terformulasi jelas; spontan dan konsisten memberikan kearifan dalam memandang fenomena cinta, menjadi kekhasan gagasannya.

Tidak hanya itu, dalam pandangan sebagian orang, pahlawan itu sering dipersonifikasi dengan sesuatu yang garang, keras dan serba kasar. Apa penyebabnya? Mungkin karena keterbatasan atau terjebak ketertunggalan ruang pikiran dengan satu alur pikiran. Namun, beliau justru menjelasakn dari banyak sudut pandang. Bahkan beliau menjelaskannya dengan diksi yang unik. Coba kita perhatikan penjelasan beliau mengenai posisi wanita dalam perjalanan perjuangan pahlawan dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, “Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung.” Pernyataan ini merupakan hikmah psiko-sejarah yang menjelaskan sebagian dari latar belakang kebesaran seorang pahlawan. Bahwa karya-karya besar seorang pahlawan lahir ketika energi dalam dirinya bersinergi dengan momentum di luar dirinya; tumpah ruah bagai banjir besar yang tak terbendung: Ibu atau istrinya. Coba perhatikan secara seksama pernyataan tersebut. Beliau tidak menjelaskan sebuah kenyataan sejarah dengan ungkapan melankolis yang melemahkan posisi wanita atau bahkan pahlawan; tapi justru dengan ungkapan yang seimbang, dan benar-benar menempatkan keduanya pada tempat yang tepat dan tepat pada tempatnya.

Lulusan pesantren Darul Arqam Makasar dan LIPIA Jakarta yang bernama lengkap Muhammad Anis Matta ini memang unik, seperti Iqbal yang memotret diri dengan bait puisinya:


Akulah keluh

Aku ingin naik ke langit angkasa

Itulah sebait puisi Iqbal yang beliau kutip. Iqbal--sebagiamana juga Ust. Anis Matta--menyimbolkan dirinya sebagai keluh, atau ambisi, obsesi dan dorongan prestasi (thumuh) yang setiap saat menyulut api kehendaknya untuk memberi dan mendapatkan karya-karya puncak. Ini bukan obsesi kemahahebatan atau mimpi buruk kemahatahuan. Ia lebih merupakan vitalitas iman yang melahirkan sesuatu yang beliau sebut sebagai “gelombang tenaga jiwa yang dahsyat.”

Keluh ternyata bukan hanya milik Iqbal dan Ust. Anis Matta saja. Manusia-manusia yang oleh Sayyid Quthub disebut Al-Khalidun (abadi) rata-rata memiliki watak ini. Kelihatannya watak ini menjadi sifat dasar mereka. Ia bagaikan nyala tak pernah padam. Tidak juga kelelahan yang mampu membujuk tekad mereka, tidak juga resiko. Thumuh mereka adalah burung elang yang terbang dengan kepakan sayap raksasa. Sayap kanannya adalah kerinduan yang bertalu-talu terhadap surga firdaus. Sayap kirinya adalah ketakutan yang bertalu-talu terhadap neraka azab Allah yang menghantui derap langkahnya. Mereka benar-benar mengerti apa maksud kata seorang penyair Arab berikut ini, “Bila jiwa itu besar, raga akan lelah mengikuti kehendaknya.” Lalu, bagaimana dengan diriku, dirimu dan dirinya?


Catatan Singkat untuk 8 Mata Air Kecemerlangan


Sebelum buku Delapan Mata Air Kecemerlangan karya beliau ini diterbitkan, saya sudah baca draf atau naskahnya. [Hitung-hitung ngedit]. Namun, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Apa itu? Ide besar yang terdapat di dalamnya tidak seimbang dengan kesederhanaan dan kekerdilan kapasitas saya; baik pikiran, jiwa bahkan orientasi hidup saya. Namun sekali lagi, saya mesti menabrak kelemahan-kelemahan itu. Salah satunya dengan memberanikan diri untuk hadir di sini, mengisi acara bedah buku ini. Selanjutnya, izinkan saya untuk membedah buku karya “manusia unik” yang menguasai beberapa bahasa asing ini, setapak demi setapak. Selamat mendengarkan!

Sejarah adalah sebuah relativitas. Karena itu, memahami sebuah narasi historis memerlukan interpretasi yang tepat dan manyeluruh untuk menghindari pemihakan secara apriori. Sebuah teks yang diwariskan secara turun temurun sebagai transmiter historis ditafsirkan menurut basis ideologi setiap narator. Biasanya, dalam sejarah sebuah bangsa, penguasa memegang otoritas kebenaran sejarah. Semata karena ada vested interest yang bermain di sana. Karena setiap ilmu tidak neutral value, melainkan value-laden (dimuati nilai-nilai). Menulis sejarah bukanlah sebuah tugas yang mudah. Berbeda dengan penulisan sejarah masa lalu yang terfokus pada penuturan kejadian atau event sejarah berdasar fakta (narrative type), historiografi masa kini tidak ubahnya dengan disiplin ilmu lain yang membutuhkan perangkat pembantu, seperti disiplin ilmu arkeologi, sosiologi, antropologi, psikologi, agama dan lainnya.

Keberhasilan penulisan sejarah, menurut Paul Veyne, kritikus teks asal Prancis dalam Writing History, tergantung pada kepandaian narator sejarah dalam menganalisis dan menghubungkan data, keahliannya dalam menerjemahkan sikap pelaku sejarah serta ketajaman intuisinya dalam menelusuri jalan pikiran, mentalitas serta kecenderungan kelompok atau bangsa yang diteliti dan ditulis. Alhasil, sejarawan harus memiliki erudition (pengetahuan memadai, wawasan luas dan pengalaman tinggi). Untuk itu, para pakar metodologi penulisan sejarah menggarisbawahi empat segi penting yang harus dipenuhi dalam proses historiografi. Secara berurut adalah: heuristik atau kemahiran teknik riset yang hanya dapat diperoleh dari pengalaman, pengetahuan tentang interpretasi kejadian sejarah, penelitian data dan selanjutnya penuturan melalui tulisan.

Kalau dipandang bahwa buku ini merupakan semacam sejarah singkat pergulatan antara manusia (pribadi penulis) dengan Islam sebagai basis ideologinya, yang kemudian disistematiskan dalam susunan yang apik dan sistemik--yang bisa dijadikan sebagai sebuah referensi bagi siapapun untuk menata dirinya--maka dalam kontek ini saya bukan orang yang kemudian mengklasifikasi diri sebagai narator, penguasa apalagi sejarahwan. Saya hanyalah orang yang mempunyai kesempatan untuk bertutur apa adanya, “Saya belum menemukan sisi negatif dari buku setebal 259 halaman (Delapan Mata Air Kecemerlangan) ini. Bahkan Anis Matta sendiri bukanlah kategori orang seperti lilin, yang menyala tapi membakar diri. Anis Matta justru sering menyalakan lilin: Memberi celah keterarahan sekaligus warna bagi kepribadian dan kehidupan banyak orang.”


Kecemerlangan itu pasti bersemi

Apakah ada di antara kita yang bernasib seperti yang tersindir oleh lagunya Rhoma Irama, “Apa artinya malam minggu bagi orang yang tak mampu. Mau ke pesta tidak beruang, akhirnya nongkrong di pinggir jalan?” Cuma karena bisa bikin pesta pinggiran jalan yang lebih menarik, orang yang ada di gedung-gedung besar itu keluar dari gedung dan datang hadir di pesta itu? Ah, tidaklah kiranya.

Sebab, di antara puing-puing kesederhanaan masing-masing kita tersimpan permata tak terhitung harganya. Ia ibarat air. Kadang mengalir dan kadang diam. Ia benar-benar tersimpan rapih dan tak terlihat mata, namun ia ada, benar-benar ada. Apa itu? Hanya diri kita sendiri yang tahu.

Saya menduga dengan sangat bahwa ide atau gagasan yang terkekang itu kembali muncul tak terbendung. Tenaga jiwa yang pernah pergi itu niscaya kembali. Himpit, sesak dan keterbatasan yang menjajah itu akan segera sirna. Atau bahkan yang telah pergi itu akan kembali. Mengapa? Karena kita akan segera berlabuh menuju laut keterarahan diri. Semacam menemukan kembali substansi diri kita di lorong-lorong kenestapaan dunia yang terus menggoda.

Sederhana memang, namun dari sinilah kita memulai segalanya. Walau kita mesti sadar, selalu ada gelombang besar yang menghadang, sehingga kapal kehidupan yang kita tumpangi itu terkadang merampas obsesi kita untuk berlabuh ke negeri keabadian menjadi sirna. Ah entahlah. Itu hanya sandiwara. Kehidupan dunia memang demikian. Berjalan, jatuh, bangun dan seterusnya. Hanya mereka yang tahan bantinglah yang bisa bangun kembali. Semacam kecepatan mencari kompas, menemukan arah yang mesti dilewati agar kapal bisa berlabuh sampai ke tujuan. Tentu tak sekedar itu, tapi itulah di antara cara agar bisa berlabuh terus; bertahan hidup. Begitulah liku-liku kehidupan yang akan kita lewati.

Namun percayalah, Allah takkan pernah membiarkan kita berjalan dan melangkah apa adanya. Karena itu, Ia juga menyediakan bagi kita semacam lampu sorot yang mengarahkan kita, bahkan bagaimana seharusnya kita melangkah. Ibarat kapal layar di tengah lautan besar; penumpang yang ada mesti diberi penerang, semacam cahaya yang membuat sesuatu yang tertutup kegelapan jadi terang, terlihat. Begitulah Allah menyusun kerangka umum bagaimana kita hidup. Hanya dengan itulah kita mampu berjalan apa adanya sesuai dengan arahan: asal jaga keseimbangan. Sebab, keterarahan adalah akumulasi antara berbagai karakter manusiawi yang temporal dan orientas ideal yang bersifat given (pemberian), yang kadang serba tak menentu.

Lalu, bagaimana strategi jitu yang bisa ditunaikan agar dua karakter itu bertemu pada titik ideal? Di situlah fungsinya perencanaan, semacam konsep mengenal lebih dalam akan potensi diri dan sikap dasar kita, yang dalam kontek manajemen kehidupan dikenal dengan (1) Konsep diri. Ia bisa berawal dari memperkuat visi dan misi hidup, yang rasional dan terukur, oleh (2) Kekuatan pikiran kita. Namun, hati-hatilah, sebab kondisi yang dilewati tak selalu ideal. Karena itu, kita butuh energi yang kuat, semacam (3) Kakuatan Tekad atau kekuatan di balik kekuatan yang mampu menembus ta’bir yang serba sulit itu. Agar ia menjadi anggun, maka kita juga mesti mengenal lebih jauh (4) Keluhuran sifat jiwa kita, semacam aktivitas dan langkah hidup yang tersibgoh oleh nilai-nilai kebaikan yang berkesinambungan. Untuk itu kita butuh kekuatan, semacam kemampuan (5) memenej [manajemen] asset kita berupa kesehatan dan waktu. Dalam dua hal itulah kita semai kebaikan-kebaikan tersebut.

Nilai-nilai kebaikan merupakan keluhuran yang unik. Ia bersumber dari banyak sumber, karena itu kita juga mesti mampu mengelolanya agar nilai-nilai tersebut kembali bermanfaat bagi sumber-sumber itu. Ada pribadi, keluarga, masyarakat bahkan publik secara global. Semua itu merupakan ruang (6) Integrasi sosial, tempat (7) Berkontribusi: menerjemahkan diri kita dalam ruang atau lingkungan yang lebih komplek dan nyata.

Begitulah idealnya kita memetakan diri, terutama dalam melakoni kehidupan yang serba-serbi ini. Yang dibutuhkan di sini adalah keteguhan dan (8) Konsistensi. Dan memang begitulah kehidupan. Ia mesti kita rencanakan segala macam cara, jalan, langkah bahkan titik orbitnya, agar memperoleh keunggulan yang sesungguhnya. Seperti melangkah untuk sebuah aktivitas pada suatu waktu dengan perolehan nilai yang berlipat-lipat. Untuk kebutuhan jangka pendek, dan (terutama) untuk jangka panjang. Agar kita akhiri hidup ini dengan sebaik-baik akhir kehidupan, husnul khotimah.

Mengutip Ust. Anis Matta, ”waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan adalah batas masa kerja yang membentang dari kelahiran hingga kematian. Itulah yang kita sebut umur atau usia. Setiap manusia yang hidup mendapatkan karunia umur sebagai batas masa kerja. Jumlahnya berbeda pada setiap orang. Akan tetapi, perbedaan itu tidaklah penting, karena pertanggung jawabannya tidak terletak di situ. Namun, yang akan kita pertanggung jawabkan adalah muatan umur itu atau cara kita menjalani kehidupan kita. Setiap satu satuan waktu berlalu, setiap itu pula satu bagian dari kehidupan kita berlalu. Cara kita memberikan arti dan harga bagi kehidupan kita ditentukan dari cara kita menggunakan waktu, serta cara kita menyusun aktivitas-aktivitas dan menyimpannya dalam wadah waktu. Jadi, nilai dari setiap satu satuan waktu adalah kegiatan yang mengisinya, dan nilai dari total kehidupan kita adalah total kegiatan yang mengisi kehidupan kita”.

Buku Delapan Mata Air Kecemerlangan yang diterbitkan oleh Tarbawi Press ini merupakan tulisan lengkap dari semua ide Ust. Anis Matta tentang model manusia muslim dan peta pengembangan diri manuju puncak kecemerlangannya. Ide-ide dalam buku ini secara dinamis mengalami perkembangan yang pesat dalam diri penulisnya. Artinya, ide-ide ini tidak muncul di dalam jiwa kosong tanpa pergulatan dan perenungan mendalam. Karena ide-ide ini lahir dari pergulatan batin dan pemikiran yang panjang ketika beliau berusaha mengintegrasi kembali antara pribadinya sebagai sebuah entitas dengan Islam sebagai basis ideologinya. Menurut beliau, ini adalah masalah serius yang mesti kita perhatikan. Hal ini bisa terlihat dari ungkapan beliau berikut ini, ”Itu persoalan bersama kita sebagai manusia muslim yang mengalami keterbelahan pribadi”.

Hal itulah yang mengantar beliau merumuskan sebuah model bagi manusia muslim dan rahasia-rahasia kecemerlangan yang dapat menjadi peta jalan pengembangan pribadi mereka (red. Kita). Dan memang itulah orientasi beliau yang kemudian akhirnya buku ini ada, ”Mempertemukan kembali manusia-manusia muslim dengan mata air kecemerlangan mereka, agar pesona kebenaran Islam berdiri tegak bersama pesona kepribadian kita sebagai manusia muslim.”

Menurut beliau, model manusia adalah suatu bangunan kepribadian yang utuh. Bangunan ini memuat visi, misi, jalan hidup dan nilai-nilai yang seharusnya membentuk paradigma, mentalitas dan karakter seseorang yang meyakini kebenarannya. Mungkin banyak orang yang masih bingung ”ingin menjadi apa” atau ”ingin menjadi seperti apa.” Justru di sinilah kelebihan beliau. Melalui buku ini beliau tidak mengajak kita untuk mendalami tentang ”bagaimana saya seharusnya”. Sebab menurut beliau, ”seorang muslim tidak bertanya tentang apa yang ia inginkan bagi dirinya atau hidupnya” namun ”Seorang muslim akan bertanya tentang apa yang Allah inginkan bagi dirinya.”

Bila pemahaman yang benar dan kuat tentang model manusia muslim adalah titik tolak di mana kita menuju, maka Delapan Mata Air Kecemerlangan berikut adalah tangga-tangga keseluruhan perjalanannya, yaitu: Konsep diri, Struktur pengetahuan dan pemikiran yang solid, Tekad yang kuat, Aset fundamental (waktu dan kesehatan) yang terkelola dengan efesien dan efektif, Karakter dasar yang kuat dan tangguh, Kemampuan berintegarsi secara sosial, Kontribusi yang nyata, Konsistensi yang membuatnya bertahan di puncak kegemilangan.

Untuk mempermudah pembaca, beliau tidak mencukupkan diri hanya pada aspek ”Bagaimana seharusnya seorang menjadi manusia muslim”, tapi juga menjelaskan secara detail standa-standar aplikasinya. Misalnya tentang penghayatan misi hidup. Beliau secara detail memberikan penjelasan mengenai standar sasaran, aspek-aspek yang dihayati, sarana atau medianya dan outputnya. Sebagai contoh, berikut merupakan elaborasi saya atas beberapa soal dalam buku tersebut, yang mesti dijawab oleh masing-masing kita sekarang!

Apakah selama ini saya merasa bahwa semua yang saya kerjakan dalam hidup semata-mata saya persembahkan untuk Allah atau kepentingan lain?
Apakah saya yakin bahwa yang saya lakukan di dunia ini akan memberikan saya kehidupan yang terhormat di akhirat kelak?
Apakah saya merasakan bahwa agama Islam yang saya anut selama ini adalah sebuah pilihan hidup yang saya pilih melalui suatu proses pencarian dan perenungan yang panjang, atau sekedar warisan sosial?
Mengapa Allah tidak memberitahukan kepada saya jadwal kedatangan ajal/kematian saya?
Kalau saya diberi pilihan, pada umur berapa saya merasa tepat meninggal dunia? Mengapa?
Kalau 15 menit ke depan saya meninggal dunia, apakah saya merasa sudah siap dan akan cukup tenang menghadapinya?
Jika 15 menit ke depan saya meninggal dunia, apakah saya yakin bekal amal saya sudah memadai untuk mengantar saya menuju surga-Nya? (Sebutkan amal-amal unggulan yang sudah saya lakukan!)
Jasa apa saja yang telah saya lakukan yang menyebabkan orang-orang yang ditinggal mati merasa kehilngan saya?
Kalau 15 menit ke depan saya meninggal dunia, dosa apa saja yang pernah saya lakukan yang mesti diampuni oleh Allah agar saya tidak tersiksa di neraka?
Jika 15 menit ke depan saya meninggal dunin, kesalahan-kesalahan apa saja yang pernah saya lakukan (kepada: 1. Ibu 2. Ayah 3. Kakak 4. Adik 5. Teman 6. Tetangga) saya yang sangat saya inginkan untuk dimaafkan tapi tidak sempat saya sampaikan kepada mereka?
Jika 15 menit ke depan saya meninggal dunia, rencana-rencana kebaikan apa saja yang telah saya siapkan atau (bahkan) kerjakan tapi belum saya selesaikan?
Jika 15 menit ke depan saya meninggal dunia, apakah ada orang-orang tertentu yang merasa senang dengan kematian saya? (Siapa saja mereka? Mengapa?)


Lebih lanjut, tulisan Ust. Anis Matta mencerminkan kekuatan dalam kelembutan--sebuah gaya yang jarang ditemukan dalam penulisan lain. Tabur metafora yang menghiasi tiap tulisan, kata putik yang lincah namun tetap terkendali, kombinasi antara kata kutipan dan penalaran yang serasi, semua meluncur dari jemarinya. Semuanya dapat menunjukkan bagaimana Ust. Anis Matta serius dan intens dalam memberi daya gugah dalam tiap tulisannya sekaligus menunjukkan kehadirannya ketika berhadapan dan “mengobrol” dengan para pembacanya. Seakan-akan berhadapan langsung. Ini mungkin berlebihan, tapi begitulah yang saya rasakan kalau membaca tulisan-tulisan beliau.

Lalu dari mana Ust. Anis Matta mendapatkan daya gugah sebesar itu? Semua itu memang bisa dilihat sebagai kelihaian menulis dan keahlian menyampaikan gagasan. Tapi tampaknya bukan hanya itu yang menjadi kekuatan dalam tiap tulisannya. Jika konsepsi adalah sebuah pondasi di mana sebuah tulisan akan dibangun, maka dapat dipandang konsepsi Ust. Anis Matta adalah konsepsi yang sudah matang dan selesai. Saya ingin mengatakan secara jujur bahwa Ust. Anis Matta ingin mengatakan kepada diriku, dirimu dan dirinya, “jadilah dirimu sendiri, karena engkau adalah muslim sejati”.

Akhirnya, ide atau gagasan yang terdapat dalam tulisan ini boleh jadi terlalu sederhana, namun alangkah bijaknya jika kita mau menegaskan kembali beberapa hal. Sindrom “merasa tak mampu, merasa hidup takkan berubah, merasa sudah jalani apa adanya saja” mesti kita hilangkan dari pikiran bahkan firasat kita. Dan jika sindrom ini kita hilangkan, mengertilah kita mengapa kita juga perlu menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran untuk menjadi manusia muslim ideal di masa depan. Sekaligus kita perlu mengerti alasan yang mengharuskan kita untuk berubah. Bukan sekedar sebuah kebanggaan sejarah kehidupan kita sebagai seorang muslim di dunia, tapi sekaligus sebagai suatu rencana menuju kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Apapun penilaian atau pendapat pembaca--kalaulah ada yang sependapat dengan saya bahwa Anis Matta adalah pahlawan gagasan, seperti yang dibuktikan melalui karya-karya beliau--hendaklah kiranya agar berpandai-pandailah mengagumi (orangnya) tapi lebih pandailah untuk meneladani (kebaikannya).

Akhirnya, mudah-mudahan melalui tangan-tangan kita--dengan Delapan Mata Air Kecemerlangan itu--insya Allah, Allah Swt. membuka wajah negeri ini bahkan dunia Islam menjadi pusat peradaban dunia yang segera kita nikmati! []

* (Kaderisasi KAMMI Jawa barat Periode 2008-2010)

» Read more → BIARKAN KECEMERLANGAN ITU BERSEMI!

Jumat, 26 Maret 2010

Revitalisasi Peran Pemuda dan Kepemimpinan Dalam Negara

Pemuda
Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ungkapan ini begitu masyhur dan telah menjadi nyata. Selain itu juga adanya sebuah pernyataan bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda di masa kini. Ungkapan tersebutlah yang menjadi barometer dan standarisasi dalam pembinaan dan mendidik generasi muda untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Pemuda merupakan pilar kebangkitan umat. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.


Dengan demikian, maka sungguh banyak kewajiban pemuda, tanggung jawab, dan semakin berlipat, hak-hak umat yang harus ditunaikan oleh para pemuda. Pemuda dituntut untuk berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat dan hendaknya mampu menunaikan hak-hak umat dengan baik. Dengan kata lain, pemuda sesungguhnya dituntut untuk mendidik dirinya menjadi pemuda yang memiliki jiwa-jiwa pemimpin.

Ada dua hal yang menonjol pada diri pemuda dalam sebuah gerakan. Pertama, kedudukannya sebagai basis operasional dan kedua, perannya dalam proses kaderisasi.

Kekuatan dan kesemangatan membuat pemuda menjadi sangat cocok bagi peran operasional yang membutuhkan energi besar. Sedangkan kepolosannya memudahkan para penggerak untuk menanamkan nilai-nilai yang akan memotivasi aktivitas gerakan.
Potensi kepemudaan ini sangat dihargai disemua lini kehidupan terlebih menurut islam. Arahan bagi para pemuda untuk menyalurkan potensinya kepada kebaikan yang sejati.

Kebaikan yang akan membuat mereka jaya di dunia dan juga di akhirat. Berhamba hanya kepada Allah, Berjuang hanya untuk kejayaan Islam, bekerja keras hanya untuk menegakkan kebenaran yang sejati. Inilah jalan hidup pemuda muslim yang berharga.

Pemimpin
Pemimpin dalam satu negara, ibarat kepala bagi tubuh. Inilah yang menentukan seluruh tujuan dan disini pula tempat berkumpulnya segala macam informasi. Pemimpin bertugas memikirkan, dan mengkaji setiap masalah yang dihadapi oleh apa yang telah ia pimpin. Pemimpin juga merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan dan disiplin shaff.

Seorang bijak pernah mengatakan :
“Pemimpin yang baik adalah yang mampu membantu memecahkan kesulitan mereka yang dipimpin serta mempersiapkan calon atau kader pemimpin yang nanti akan menggantikannya.”

Disinilah pemimpin diharapkan mampu melakuakan perubahan baik bagi dirinya maupun orang lain dan yang dipimpinnya menuju kearah kebaikan.

Kepemimpinan Pemuda Pada Masa Kecemerlangan Islam dan Masa Abad ke 20
Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar peristiwa yang telah lalu banyak dipengaruhi oleh mereka yang tergolong pemuda. Hampir seluruh gerakan di dunia, sejak zaman purba hingga zaman satelit ini, pemuda memiliki peran yang cukup signifikan. Bahkan ketika Islam mencetuskan gerakan dakwahnya belasan abad yang silam. Kepemimpinan itu telah ada dari zaman Rasulullah SAW hingga kini.

Sebagai salah satu acuan pada zaman tabi’ut tabi’in. Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh sosok pemuda yang berhasil dalam memimpin di masanya.

Telah diriwayatkan bahwa sosok Umar bin Abdul Aziz menghadirkan pribadi yang sungguh luarbiasa. Hal itu dapat terlihat dari kesucian jiwanya dan keagungan jejak hidupnya. Walaupun Umar bin Abdul Aziz tidak hidup pada masa diturunkannya wahyu namun ia mencoba mamindahkan masa wahyu itu kepada masanya, yaitu masa-masa yang penuh dengan kegelapan, penindasan dan diwarnai oleh fanatisme yang membabi buta.

Pada masa itu, Umar bin Abdul Aziz mampu merubah tradisi Daulat Bani Umayyah yang rendah yang telah berlalu selama 60 tahun, menjadi masa pemerintahan yang indah, baik, adil, dan sejahtera yang mirip dengan masa Rasulullah SAW.

Dalam hal tersebut yang ia habiskan hanya memakan waktu dua tahun lima bulan dan beberapa hari saja. Keistimewaan dirinya inilah membuat Umar bin Abdul Aziz dan sejarah perjuangannya lebih mirip legenda daripada fakta.

Umar bin Abdul Aziz menerima kekuasaan sebagai khalifah dikala ia masih muda. Saat itu usianya belum mencapai 35 tahun. Suasana yang ditemui Umar bin Abdul Aziz diawal kekhalifahannya telah memaksanya untuk menumpahkan perhatiannya yang lebih besar terhadap hak-hak manusia.

Sedangkan di awal abad ke-20 yang lalu, di negeri Mesir muncul seorang tokoh muda yang sangat terkenal sampai sekarang. Beliau adalah Hasan Al Banna. Hasan Al Banna tidak saja menjadi sosok pemimpin bagi para pengikutnya saat itu, namun ia adalah sosok pemimpin yang muncul dan tampil dalam situasi dan kondisi yang tidak mendukung, iklim yang tidak pas. Bahkan ia muncul di zaman kegelapan yang sangat pekat, di tengah-tengah masyarakat yang terkena kelumpuhan berfikir, ruhani yang kosong, ‘athifah (empati, simpati, dan emosi) yang dingin, kemauan yang lemah, tekad yang lentur, semangat yang rapuh, badan yang loyo, kehidupan yang labil, akhlak yang rusak, ketundukan kepada kekuatan, dan keputusasaan untuk melakukan perbaikan.

Kejeniusan Hasan Al Banna tampak jelas dalam kecintaannya kepada islam, Integritas kepemimpinannya sepenuhnya untuk dakwah dengan segala bakat, potensi, dan tulisan-tulisannya. Hasan Al Banna memiliki pengaruh yang sangat besar di kalangan kader-kadernya terbukti gerakan dakwah yang dirintisnya hingga kini konsepnya merata hampir diseluruh dunia.

Beliau adalah pembangun generasi, murabbi rakyat dan pemilik madrasah ilmiyah fikriyah khuluqiyah. Hal ini telah mempengaruhi kecendrungan semua orang yang berkontak dengannya, baik dari kalangan pelajar atau aktivis, dalam cita rasa mereka, metodologi berfikir mereka, gaya penjelasan mereka. Pengaruh ini masih dapat kita rasakan hingga kini.

Peran pemimpin-pemimpin tersebutlah yang layak direvitalisasi kembali dengan baik dan benar khususnya bagi kaum muda, karena merekalah yang akan menjadi teladan konkrit bagi masyarakat kontemporer dalam mewujudkan manhaj al hayyah yang shahih.

Perubahan Sebagai Agenda Umat
Setiap manusia, setiap kita, dan setiap umat memiliki kecenderungan untuk meraih sebuah kemenangan. Dan kemenangan itulah merupakan suatu agenda besar yang dimiliki oleh umat.

Upaya dalam meraih kemenangan itu hendaknya dilakukan dengan terus menerus dan tidak boleh berhenti meski telah memperolehnya. Dalam meraih sebuah kemenangan tersebut hendaknya setiap orang melakukan perubahan. Perubahan yang dikehendaki, bukan sekedar merubah nama atau bentuk lahir suatu masyarakat, namun merubah suatu realita baru termasuk di dalamnya prinsip-prinsip ber-aqidah, pemikiran, moral, hukum, budaya, yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Perubahan yang kita cita-citakan dan idamkan bersama haruslah diraih secara bersama-sama dan dengan semangat yang sama pula. Hal ini dapat tercermin melalui masyarakat substantif..

Kekuatan dan Peran Pemuda Terhadap Perubahan
Perubahan yang diinginkan bersama adalah perubahan yang komprehensif dan substantif, meliputi seluruh bidang kehidupan dan sisi normatif bagi seluruh umat. Bukan sekedar perubahan yang sifatnya parsial dan hanya menjadi solusi sesaat, yang pada akhirnya akan kembali melahirkan masalah-masalah baru. Untuk itulah sangat dibutuhkannya peran pemuda yang bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan.

Ada kontribusi lain yang bisa diberikan kepada Islam dan umat ini, yaitu tenaga dan amal nyata yang dilakukan oleh para pemuda. Seorang mukmin dalam perspektif Al Qur’an digambarkan sebagai manusia yang dinamis, progresif dan produktif. Dia senantiasa memiliki daya juang dan daya dobrak dalam menebarkan nilai-nilai kebenaran yang telah diyakininya. Begitu juga memiliki prinsip istiqomah dalam amanah yang telah dipikulnya. Bekerja adalah budayanya, berkorban adalah nalurinya dan fitrahnya adalah keberanian.

Selalu tegar dan tidak pernah gentar dalam menebarkan nilai kebenaran dan kebaikan.
Beramal dan bergerak juga merupakan indikator kebaikan hidup bagi seorang pemuda islam. Karena semua yang bergerak dan beramal akan mendatangkan kemashlahatan dan kebaikan.

“Sungguh fitrah ini bisa sukses apabila ada umat yangkuat, keikhlasan yang penuh di jalannya, hamasah yang membara dan adanya persiapan yang melahirkan tadhhiat (pengorbanan) dan amal untuk merealisasikannya. Dan hampir-hampir empat pilar ini (iman, ikhlas, hamasah dan amal) merupakan karakteristik bagi para pemuda. Karena dasar keimanan adalah hati yang cerdas, dasar keikhlasan adalah nurani yang suci, dasar hamasah adalah syu’ur yang kuat dan dasar amal adalah ‘azm menggelora.”( Hasan Al Banna)

Oleh karenanya, seorang pemuda tidak boleh berpangku tangan tanpa ada partisipasi dalam mewujudkan agenda perubahan umat. Tuntutan bagi para pemuda untuk bergerak dikarenakan bahwa pemuda adalah sosok yang memiliki jiwa intelektualitas. Sebagai entitas masyarakat, pemuda juga berusaha kritis terhadap kondisi masyarakatnya dan berusaha mengungkapkan realitas dan fakta-fakta yang terjadi di masyarakat, dan menyampaikan langsung kepada para penguasa dan mampu mengambil kebijakan. Pada akhirnya pemuda menjadi tumpuan bagi rakyat untuk terus menyuarakan perubahan.

Harapan, Peluang dan Tantangan Kepemimpinan Pemuda
Sebuah proses perubahan sangat dipengaruhi oleh pemimpin. Terlebih lagi dalam struktur dan budaya sosial yang paternalistik. Untuk dapat mewujudkan masyarakat yang beradab, bangsa ini harus memiliki pemimpin yang amanah, mau bekerja keras, dan mampu mengarahkan serta menggerakkan massanya untuk bersama berjuang mencapai cita-cita perjuangannya. Hal inilah yang menjadi harapan bagi seluruh masyarakat dan para pemuda.

Kalau dilihat di negara Indonesia, para foundhing fathers telah menetapkan, bahwa perubahan yang harus terjadi adalah terwujudnya kemerdekaan, kebersamaan, ketuhanan yang Maha Esa, krmanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kedaulatan rakyat, dan yang terakhir adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana termaktub dalam konstitusi negara kita. Sebuah cita-cita besar dari sebuah perubahan.

Berbagai rezim telah dilalui, namun perubahan yang diinginkan oleh seluruh umat khususnya rakyat Indonesia belum dapat diwujudkan. Keinginan mendapatkan perubahan tetap terus bersemayam di dalam dada rakyat Indonesia hingga kini. Mereka masih terus menuntut, bergerak, berjuang dan melawan hingga tercapainya perubahan menuju kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia.

Hal itulah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda sebagai pemimpin masa depan. Adapun hal lain yang menjadi tantangan bagi para pemuda dalam melakukan perubahan adalah terkotorinya kepribadian Islam oleh beberapa golongan yang melumpuhkan sendi kekuatannya.

Kepemimpinan untuk saat ini masih menjadi sebuah masalah yang harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya. Apalagi itu akan menjadi sangat urgen ketika kita mengharapkan kokohnya kepemimpinan yang bisa menampilkan moral dan akhlaq Islami. Kepemimpinan masih menjadi masalah krusial yang kemudian mengakibatkan negeri ini mengalami krisis multidimensi yang parah. Wallahu a’lam
sumber: http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/ikhsan-pallawa-aktivis-kammi-pusat-revitalisasi-peran-pemuda-dan-kepemimpinan-dalam-negara.htm


Oleh; Ikhsan Pallawa
Penulis adalah ketua Kompetensi KAMMI Pusat
dapat dihubungi melalui e-mail: ipallawa@yahoo.com
» Read more → Revitalisasi Peran Pemuda dan Kepemimpinan Dalam Negara

Senin, 01 Februari 2010

FORM DATA KADER

KAMMI .....


NO-->KAMMI WILAYAH-->KAMMI DAERAH-->KAMMI KOMISARIAT-->NAMA-->NO HP-->EMAIL-->AMANAH DI KAMMI-->STATUS=DM1=DM2=DM3-->STATUS "T"-->TAHUN MULAI "T"-->LOKASI "T"--> AKTIF=TIDAK AKTIF-->MULAI TAHUN-->TEMPAT



Format dalam bentuk excell
» Read more → FORM DATA KADER

Selasa, 08 Desember 2009

Thought of Islamic Brain Drain Circulation


This August 9th-16th, The Union of NGO’s of The Islamic World (UNIW) held the 2nd meeting of Youth Summer Gathering in Turki. The meeting beforehand was discussed various problems of the Islamic world, such as the Palestinian tragedy, Afghanistan and Iraq’s war, etc. Rumours that were promoted were the defence of the Muslim world to respond it as the form of an obligation of one ummah, not only a form of solidarity.

Further, as a form of progress in Youth Muslim international meetings, apparently in this 2nd Youth Summer Gathering, we would like to proposed this discussions to be more focussed on efforts to developed Islamic civilization systematically, that is departing from maximizing one the greatest Muslim internal resources; The Youth.

In our opinion, the basic problem of the Islamic world nowadays was the unplanned and unsystematically use of Muslim internal resources. The resources such as oil, mining, land, ocean, number of Muslim’s population, scholars, knowledge, etc, were unconnected in resurgence plan of the Muslim world, especially youth resources.

The youth is assets in today and the future that was owned by each nation and civilization. We hope that all organisations that assembled the NGO of Islamic world could organize the youth in a strategic plan that could accelerating the potential of youth Muslim leadership until achieving their maturity.

At least there are three strategic resources of the Islamic World that has not optimum yet. First, natural resources that overflowed. The Islamic world not only in the Middle East that was rich in oil, but also in various wide countries have the potential for the mainland and their ocean. Secondly, human resources that developed and grew faster than other group. Muslims are more than 1/5 of human population in the world. Unfortunately, the development of these human resources did not have the positive balance. The existence of the social and welfare gap in Muslim countries was one of its indicators. And, the third, brain resources, intellectual Muslim resources that were ignored.

In our humble opinion, the basic problem of the resources was smart brain resources. The Islamic awareness at this time been equitable enough to be felt by various circles in a heterogenous manner entity—not only that have a background syari’ah department. They who had the yard of the public's edication also have had the Islamic awareness through various Islami good deed activities. The Islamic awareness that multi this entity was the Islamic potential brain drain. They the smart person, professional, and had the ideological awareness concerning Islamic. Here afterwards the importance was pushed by the occurrence of the circulation of this smart young colaboration in the Islamic good deed that was more progressive (Islamic Brain Drain Circulation).

The idea of brain drain inspired by what was experienced by India. In India, many smart people left his country to work and increase the foreign country, and so India experienced the serious crisis resulting from the lack of smart people in the country. However after being applied by the policy of bureaucracy reform, the development of the infrastructure, the sharpening benchmark the country, arousing pay facilities and various ease that became the attraction of Indian expatriates overseas back to domestic him. Before they came home to India, they were people who had competence, the network, and now after 30 Indian length years just inhaled the fresh wind the resurgence of his country as the second superpower in Asia after China.

That was meant by Islamic Brain Drain Circulation to be draining smart people of Muslim among Islamic world countries. Resources take the form of brain drain already during him was managed systematically and in an integrated manner in resurgence planning of the Islamic world. Smart people had the smart trend individually, because that when being allowed to become the individualist. But when being organized, that was formed not the competition but synergy. This synergy had two forms, that is, firstly, synergy among the smart young personally. Secondly was synergy between his academic intelligence command and leadership and bounced enterpreneur him through the field command (ma’rifatul maidan). The two forms of this synergy will give birth to the young that intellect, had high moral standards, and had a quality the leader.

The smart Muslim young (Islamic brain drain) this was supreme resources that were very potential to be integrated, at first was organized was based on competence. Possibly in the future will be formed by the medical association of Muslim, the Muslim economist, the Muslim businessman, that all of it was based on the young man. The social networking was based on this competence will be better with directly meeting system in order to be able to carry out the action real that could be felt directly by the community generally and the Islamic world in especially.

The Islamic Brain Drain Circulation idea could refresh the passion of the young's intellectual that lately tended pragmatic. Because of that the government was very opportune to be able to stimulate the potential brain drain this Muslim young, at least by giving the scholarship opportunity, the short course, and the exchange of the Muslim young man in the international environment that was assembled in the Organization of the Islamic Conference (OIC).
The Islamic Brain Drain Circulation idea also was the progressive idea that was more realistic to develop the integration of the Islamic world (Islamic integration). However spoke the integration of the Islamic world will be far more productive to involve the young man as assets of the future of group's leadership in the period that will come. Allohu a’lam.

Rijalul Imam, S.Hum., M.Si.
President of KAMMI

» Read more → Thought of Islamic Brain Drain Circulation

KEBANGKITAN POROS BARU DUNIA (Sebuah Skenario Meretas Peran Global Indonesia)

Seberkas cahaya merah menyemburat di ufuk timur tatkala negeri ini bahkan negara-negara Asia telah melewati masa-masa kelamnya. Dari nadir reformasi, kemerdekaan, pembangunan yang telah merubah wajah berbagai negara Asia selapis demi selapis, kita diharuskan untuk terus berbenah atas nama diktum sejarah. Satu demi satu kembali ditata dalam upaya pemenuhan keadilan dan pemerataan kemakmuran bagi kebangkitan Asia. Ya, kita sedang berjuang menakar waktu atas nama keadilan atau keserakahan, kemakmuran atau kehancuran. Kompleksitas problematika yang dihadapi bangsa-bangsa Asia telah berhadapan dengan kita secara langsung. Kita bahkan nyaris mengurungkan diri untuk terlibat menjadi bagian dari solusi, pada saat di mana seharusnya kita terlibat. Pertanyaan tajampun menabrak keangkuhan kita; di manakah posisi dan apa peran Indonesia?
Tulisan ini adalah sebuah upaya memposisikan Indonesia dalam menatap peta baru (politik) dunia di masa depan. Negeri ini, telah menemukan monumen besar yang tertanam antara tahan-tahun masa transisi, baik sebagai bagian dari Asia maupun sebagai negara Muslim terbesar dari gugusan peradaban dunia yang sudah terseok-seok. Sebelas tahun usia reformasi sudah berlalu, kini bangsa Indonesia memasuki sepuluh tahun kedua. Tantangan yang dihadapinya pun semakin kompleks, dan karena itu semua elemen tidak layak menjawabnya dengan oposisi binner. Semua elemen dari berbagai aliran politik bahkan partai politik harus turut terjun menyelesaikan problem bangsa dengan narasi besar yang dibawa sejak kelahirannya.



Indonesia yang dilahirkan sejak awal proklamasi 17 Agustus 1945 telah mengukir sejarah dalam posisinya yang tegas. Kini mengawali kisah sejarah dekade baru, Indonesia harus terus menyempurnakan diri dengan narasi yang radikal tetapi mudah dicerna. Kalaulah faktanya menjelaskan bahwa bangsa ini tidak saja kehilangan orang-orang besar, tetapi juga pikiran besar, maka saat ini juga kita semua mesti bicara kepada semua elemen bangsa bahwa tugas kita saat ini adalah mengambil posisi tegas: bangsa ini butuh keterlibatan semua elemen bangsa, karena amanah menata dunia sudah menunggu ’singa-singa’ Asia, dan itu mesti dimulai dari bangsa kita, Indonesia.
Realitas Indonesia menjelaskan bahwa negeri ini adalah salah satu negara besar dunia yang memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, di mana umat Islam sebagai mayoritas. Sebagai warga negara (apalagi sebagai muslim) memperjuangkan kepentingan bangsa atau publik yang lebih luas adalah keniscayaan. Selanjutnya, sebagai negeri muslim terbesar, Indonesia juga memiliki tanggungjawab penuh dalam menyatukan kembali ‘kekuatan Asia’, terutama dalam konteks meretas peradaban baru dunia. Beberapa saat terakhir, bangsa ini berada pada posisi yang termarjinalkan. Karena itu mesti dibalik ke arus aslinya; bangsa terhormat dan bermartabat. Adalah tindakan atau perlakuan marginalisasi atas peran dan posisi strategis Indonesia di Asia bahkan peradaban global mesti diakhiri.
Meretas Trend Baru Masa Depan Politik Dunia
Sejarah pada hakikatnya adalah sebuah panggung pertanggungjawaban terhadap misi otentik penciptaan manusia itu sendiri. Tulisan ini adalah bagian dari upaya untuk menyambung keterputusan sejarah bangsa kita dari momentum besar: kebangkitan. Narasi yang mesti dihadirkan adalah ide tentang kebangkitan. Hal ini sepertinya mesti menjadi titik tumpu kita dalam menalar kembali posisi dan peran negeri ini dalam menumbuhkan kembali benih-benih kebangkitan Asia dalam pentas politik global. Karena itu, prinsip-prinsip mengenai pentingnya hubungan yang saling menyatu antara elemen dalam negeri bahkan lintas negara (Asia) sangat signifikan. Momentum historis kebangkitan Indonesia mesti menjadi pilihan. Di saat dunia yang dikomandoi oleh negara-negara Barat (Amerika dkk) saat ini mulai kelihatan ‘akhir hayat’nya, di saat negara-negara Barat sudah mulai masuk ke dalam kubur kehancurannya, maka bangsa Indonesia mesti mengambil jalan, memutar dengan membuka jalur skenario baru, kemudian mencoba untuk menjajaki formulasi baru.
Negara-negara dunia saat ini telah menjadi "masyarakat horizontal" dalam arti semua negara tampil ke muka untuk menghilangkan hegemoni AS. Terbukti dengan tampilnya para pemimpin sosialis di negara-negara Amerika Latin yang berani tampil berseberangan dengan kebijakan Amerika Serikat (AS). Kalau dulu pernyataan ini masih layak disuguhkan kepada Amerika Serikat, “jika Paman Sam batuk, negara-negara lain turut demam juga”, maka sekarang tidak relevan lagi. Karena saat ini, krisis ekonomi, politik, dan energi sedang menimpa AS. Di samping penyebab lain, salah satu penyebab (utamanya) adalah ketidakstabilan nilai mata uang (Dolar). Lalu, siapakah atau poros manakah yang akan menjadi tulang punggung baru dunia? Lalu, di manakah posisi Indonesia di masa depan?
Untuk kesekian kalinya Indonesia mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sidang Asian Parliamentary Assembly (APA). Sebagaimana beritakan oleh situs www.beritasore.com, “sidang APA rencananya akan diikuti oleh 26 negara anggota, termasuk Indonesia dan 4 negara peninjau telah menyatakan kehadirannya dalam sidang ini. Selain itu, 3 (tiga) organisasi peninjau yaitu, Arab Inter-Parliamentary Union (AIPU), Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC) dan Inter-Parliamentary Assembly of the Eurasian Economic Community, dan 3 guest of the house yang terdiri dari perwakilan Friedrich-Nauman-Stiftung Fur Die Freheit, direktur Hanns Seidel Fundation Manila dan perwakilan Parlemen Latin Amerika telah memberikan konfirmasi kehadiran, dan jumlah seluruh peserta sidang adalah 174 orang”. Sebelumnya sudah diadakan pertemuan Executive Council (Pertemuan Dewan Pimpinan) Sidang Parlemen Asia di Jakarta pada tanggal 11-12 Agustus 2009. Sidang EC merupakan kelanjutan dari Association Of Asian Parliamentary For Peace (AAPP), yang kini berubah menjadi Asian Parliamentary Assembly (APA), yang dibentuk pada tahun 1999 sebagai suatu asosiasi berdasarkan keinginan untuk bersatu padu dalam mempromosikan perdamaian dan hak asasi manusia. Indonesia sudah mengadakan sidang umum parlemen Asia atau (Asian Parliamentary Assembly), pada November 2008 lalu, dan sekarang akan diadakan lagi pada tanggal 7-10 Desember 2009 di Bandung. AAPP bertansformasi menjadi APA sebagai pengejawantahan dari langkah-langkah serius untuk memperluas cakupan kerjasama menuju Integrasi Asia.
Lalu, apa agenda Indonesia pada pertemuan ini? Apa proposal Indonesia di forum besar ini? Mungkinkah Indonesia menyediakan proposal Dialog Peradaban antara berbagai peradaban global? Ataukah Indonesia akan mempromotori sebuah Resolusi. Apapun nama atau bentuk dan isi agendanya, kita berharap (terutama kepada 12 orang delegasi Indonesia) agar dari pertemuan tersebut bangsa-bangsa Asia mampu menegaskan posisi dan perannya dalam percaturan politik global.
Sebagai ususlan, dalam konteks ini, ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian banyak pihak (terutama oleh Indonesia).

Pertama, Indonesia Mesti Memposisikan Diri Sebagai Pemimpin Asia
Menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sidang Asian Parliamentary Assembly (APA) pada tanggal 7-10 Desember 2009 adalah kepercayaan kesekian kalinya, parlemen-parlemen se-Asia kepada Parlemen Indonesia untuk kembali mengadakan Sidang APA. Tentu, dalam konteks lokal, pertemuan tersebut adalah momentum bagi rakyat dan berbagai elemen untuk mengingatkan pemimpin negeri ini agar bersikap dengan tegas, mengembalikan kembali peran strategis Indonesia pada masa lalu di tingkat politik global. Kalau dulu negeri ini pernah menjadi komando negara-negara Asia-Afrika dalam menghadapi kedigdayaan negara-negara Barat (dari Amerika hingga Eropa), maka pertemuan ini adalah momentum. Momentum bagi bangsa ini untuk mengatakan dengan tegas dan terbuka kepada negara-negara Barat bahwa Asia siap menata peradaban global.
Bangsa ini dibangun dan didirikan di atas ide besar, tekad dan semangat, sikap dan akhlak terpuji. Karena itu, sekarang mesti kita bangkitkan kembali di atas nilai-nilai itu. Negara-negara Asia bahkan dunia global sedang menanti kontribusi, menunggu keikhlasan kaki Indonesia untuk melangkah. Karena sesungguhnya negeri ini adalah juru bicara terbaik bangsa-bangsa yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan bangsa-bangsa. Gedung Merdeka Jalan Asia-Afrika di alun-alun Kota Bandung masih menjadi saksi dan akan terus menjadi saksi, bahwa di masa lalu bangsa ini pernah menjadi ‘lidah’ sekaligus ‘macan’ tunggal yang memproklamirkan kemerdekaan sekaligus kebangkitan bagi bangsa-bangsa terjajah. Bahwa semua negera, semua bangsa dan setiap komunitas kemanusiaan memiliki hak yang sama untuk hidup dan menata dirinya menjadi sebuah raksasa kebaikan untuk bangsanya sendiri bahkan untuk kebangkitan dunia. Artinya, saat ini Indonesia juga mesti memproklamirkan, mendeklarasikan dan mengatraktifkan hal yang sama: menjadi kontributir terbaik bagi kejayaan bangsa-bangsa dan peradaban dunia.
Bangsa ini bahkan negara-negara Asia terlalu lama hidup dalam kesengsaraan politik, budaya dan kefakuman kebangkitan. Pertemuan APA ini adalah kesempatan terbaik bagi Asia untuk duduk bersama dalam ruang lebar dan mengepakkan sayap-sayap perubahan dalam ruang yang lebih luas: peradaban dunia. Peradaban dunia ini adalah hak milik Asia (yang sempat terabaikan), di mana kedigdayaan kekuatan Barat sempat (atau bahkan sedang) ‘merusaknya’. Perasaan memiliki dan kesiapan menata dunia dengan penyatuan potensi negara-negara Asia (integrasi) mesti ditunaikan.
Karena itu, tiap elemen bangsa ini mesti membangun sebuah kepercayaan kolektif, bahwa Indonesia adalah potret masa depan sekaligus pemimpin negara-negara Asia dalam menata wajah masa depan peradaban dunia. Negeri ini adalah salah satu negara terbesar di dunia, negeri ini adalah negara bermayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, sekali lagi, negeri ini adalah wajah masa depan peradaban dunia. Kalau dulu negeri ini pernah menjadi juru bicara kebaikan Asia-Afrika di pentas politik global, maka saat ini juga, kita mesti mengulangi peran itu. Itulah cara terbaik dalam menempatkan Indonesia di depan negara-negara Asia bahkan negara-negara Barat.

Kedua, Asia Mesti Menjadi Kekuatan Baru Dunia
Saat ini Asia harus memainkan perannya dalam kancah internasional. Saat ini terdapat negara industri baru di Asia seperti India dan Cina yang memiliki pengaruh besar dalam perekonomian dunia. Bahkan orang terkaya di dunia saat ini merupakan warga negara India yaitu Mukesh Ambani, yang mengalahkan Bill Gates. Guna mengurangi ketergantungan dengan negara maju, Perlemen Asia mesti menyiapkan secara tuntas rencana pembentukan Asian Monetary Fund, dan (bahkan) mata uang alternatif dunia selain Dollar Amerika. Semuanya ini merupakan langkah mengurangi ketergantungan Asia terhadap Negara maju. Karena itu diperlukan keberanian Parlemen Asia untuk mengambil posisi baru.
Meminjam ungkapan Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, “Perubahan negeri ini, bahkan kebangkitan sebuah peradaban adalah akumulasi dari kerja-kerja antara generasi”. Karena itu, Asia sebagai sebuah benua besar mesti berpikir bahwa Asia adalah kekuatan baru, Asia adalah tim impian yang akan menata kembali peradaban dunia. Saat ini yang dibicarakan adalah persamaan, bahwa negara-negara Asia memiliki sejarah yang sama: pernah dijajah dan merdeka karena soliditas yang kuat. Maka, sekali lagi, pertemuan ini adalah momentum untuk kembali menata, mengulangi peran sejarah (seperti) di masa lalu.
Pada saat yang sama, pertemuan tersebut idealnya kesempatan bagi Indonesia untuk mengingatkan negara-negara Asia agar semua duduk bersama kemudian dengan lapang dada berbicara: bicara mengenai persamaan, ide, narasi, kinerja, karya, kemampuan, kekompakan, dan tim besar. Jadi, yang diperlukan dalam pertemuan tersebut adalah unifikasi berbagai potensi bangsa-bangsa. Dalam konteks ini, Indonesia mesti mengambil peran. Indonesia idealnya mesti mengajak semua negara Asia untuk keluar dari kandang mereka masing-masing dan bertemu pada sebuah lapangan yang lebih luas, untuk meneriakan narasi baru: Kebangkitan Dunia.

Ketiga, Pertemuan APA mesti Mengeluarkan Resolusi
Dalam pentas politik dunia, Asia memiliki posisi strategis. Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak dan dengan jumlah negara terbanyak jika dibandingkan benua lain, Asia bisa mengeluarkan kebijakan strategis untuk kepentingan dunia. Pertemuan tersebut nantinya mesti melahirkan kekuatan baru, Poros Kebangkitan Asia: Ekonomi, Politik maupun Pertahanan Kawasan. Ia harus mengedepankan kepentingan region, kepentingan interkoneksi antara parlemen-perlemen Asia dan dihadapkan dengan kepentingan geopolitik di seluruh dunia. Kalau peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dirasa (memang) tidak adil, maka negara-negara Asia juga memiliki hak bahkan kewajiban untuk menyusun proposal baru bagi perdamaian dunia yang berkeadilan. Dalam konteks membangun dunia di masa depan, hadirnya poros baru berbasis kawasan menjadi niscaya. Kalau PBB dirasa tidak memberikan keadilan bagi perdamaian dunia, maka kehadiran kekuatan baru dengan berbagai macam bentuknya, sangat relevan.

Penutup
Bangsa ini di masa lalu, memberi kita pelajaran, memberi kita kenyataan bahwa bangsa ini pernah menjadi juru bicara Asia-Afrika. Di atas kergaman itulah Indonesia mampu menjadi pemimpin, menjadi macan yang sangat ditakuti. Saat ini merupakan kesempatan terbaik bagi Indonesia untuk mengatakan bahwa keragaman berbagai negara di Asia adalah keniscayaan, bahwa keragaman adalah khazanah sekaligus anugrah. Bahkan, bangsa ini dibangun di atas rahim keragaman. Karenanya kita (Indonesia) mesti menyuarakan ide mengenai persatuan, ide mengenai kontribusi, ide mengenai integrasinya potensi-potensi anak bangsa ini, agar semuanya menjadi potensi kolektif yang kuat, untuk kemudian memproklamirkan diri secara terbuka di ruang publik: kami siap menata ulang dunia!
Kebangkitan bangsa ini, Asia bahkan dunia di masa depan adalah sebuah kenyataan yang segera kita peroleh. Kerja Indonesia dan negara-negara Asia saat ini adalah menunaikan syarat-syaratnya, agar ia menjadi kenyataan. Semangat itu akan terus berkobar, potensi-potensi itu akan terus difungsikan, sehingga ia –yang menurut Prof. Ahmad Mansur Suryanegara- menjadi “api sejarah” yang akan terus menggelora di atas bara kebangkitan Asia. Yang jelas, jika saat ini negara-negara Asia terhimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya, yang dapat membuatnya bertahan adalah harapan. Selanjutnya, yang dibutuhkan adalah semangat persatuan elemen bangsa serta integrasi negara-negara Asia dalam upaya membuat peta baru peradaban dunia.

Oleh: Syamsudin Kadir
Ketua Bidang Kaderisasi KAMMI Wilayah Jawa Barat 2008-2010

» Read more → KEBANGKITAN POROS BARU DUNIA (Sebuah Skenario Meretas Peran Global Indonesia)
 

Pemuda Intelektual Menuju Integrasi Dunia Islam